Prinsip Etika Keperawatan

Prinsip Etika Keperawatan

Prinsip Etika Keperawatan

Prinsip Etika Keperawatan

Ada 8 prinsip etika keperawatan yg wajib diketahui oleh perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan pada individu, kelompok/keluarga, & masyarakat.

  • Otonomi (Autonomi) prinsi otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu dapat berpikir logis & mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa mampu memutuskan sesuatu & orang lain harus menghargainya. Otonomi yaitu hak kemandirian & kebebasan individu yg menuntut pembedaan diri. Salah satu contoh yg tidak memperhatikan otonomi ialah Memberitahukan klien bahwa keadaanya dalam kondisi baik,padahal mengalami gangguan atau penyimpangan
  • Beneficience (Berbuat Baik) prinsip ini menuntut perawat untuk melakukan hal yang baik dengan begitu dapat mencegah kesalahan atau kejahatan. Contoh perawat menasehati klien dalam program latihan untuk memperbaiki kesehatan secara umum, tetapi perawat menasehati untuk tidak dilakukan karena dengan alasan resiko serangan jantung.
  • Justice (Keadilan) nilai ini direfleksikan dalam praktek professional dikala perawat bekerja untuk terapi yg benar sesuai hukum, standar praktik & keyakinan yg benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan. Contoh disaat perawat dinas sendirian & ketika itu ada klien baru masuk serta ada juga klien rawat yg memerlukan pertolongan perawat sehingga perawat mesti memperhitungkan faktor-faktor dalam faktor tersebut kemudian melakukan tindakan sesuai dengan asas keadilan.
  • Nonmaleficince (tidak merugikan) prinsi ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik & psikologis pada klien. Contoh ketika ada klien yg menyatakan kepada dokter secara tertulis menolak pemberian transfusi darah & ketika itu penyakit perdarahan (melena) membuat keadaan klien semakin memburuk & dokter harus mengistrusikan pemberian transfusi darah. akhirnya transfusi darah tidak diberikan karena prinsi beneficence walaupun pada situasi ini pun terjadi penyalahgunaan prinsi nonmaleficince.
  • Veracity (Kejujuran) nilai ini bukan cuman dimiliki oleh perawat namun harus dipunyai oleh seluruh pemberi layanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setia klien untuk meyakinkan supaya klien mengerti. Informasi yg diberikan harus akurat, komprehensif, & objektif. Kebenaran merupakan dasar dalam membina hubungan rasa saling percaya. Klie memiliki otonomi sehingga mereka mempunyai hak memperoleh informasi yg beliau ingin tahu. Contoh Ny. S masuk rumah sakit dengan berbagai macam fraktur karena kecelakaan mobil, suaminya juga ada dalam kecelakaan tersebut & meninggal dunia. Ny. S selalu bertanya-tanya tentang keadaan suaminya. Dokter ahli bedah berpesan pada perawat untuk belum memberitahukan kematian suaminya kepada klien perawat tidak mengetahui alasan tersebut dari dokter & kepala ruangan menyampaikan intruksi dokter harus diikuti. Perawat dalam faktor ini dihadapkan oleh konflik mengenai kejujuran.
  • Fidelity (Menepati janji) tanggung jawab besar seorang perawat ialah meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan kesehatan, & meminimalkan penderitaan. Untuk mencapai itu perawat harus memiliki komitmen menepati janji & menghargai komitmennya kepada orang lain.
  • Confidentiality (Kerahasiaan) kerahasiaan ialah informasi tentang klien harus dijaga privasi klien. Dokumentasi tentang keadaan kesehatan klien hanya dapat dibaca guna keperluan pengobatan & peningkatan kesehatan klien. Diskusi tentang klien di luar area pelayanan harus dihindari.
  • Accountability (Akuntabilitasi) akuntabilitas ialah standar yg pasti bahwa tindakan seorang professional bisa dinilai dalam situasi yg tidak jelas atau tanda tekecuali. Contoh perawat bertanggung jawab pada diri sendiri, profesi, klien, sesame teman sejawat, karyawan, & masyarakat. Apabila perawat salah memberi dosis obat pada klien perawat dapat digugat oleh klien yg menerima obat, dokter yg memberi tugas delegatif, & masyarakat yg menuntut kemampuan professional.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *