Wednesday , 29 March 2017
Home » Info Kesehatan » Sistematika Pertolongan Pertama Di Alam Terbuka

Sistematika Pertolongan Pertama Di Alam Terbuka

Sistematika Pertolongan Pertama Di Alam Terbuka

Sistematika Pertolongan Pertama Di Alam Terbuka

Sistematika Pertolongan Pertama Di Alam Terbuka

Sistematika Pertolongan Pertama Di Alam Terbuka – Sekarang ini banyak kegiatan di alam terbuka yang dilaksanakan di hutan, perbukitan, pantai dll. Kegiatan ini banyak dilakukan oleh masyarakat sebagai salah satu alternatif wisata, kegiatan pendidikan dan bahkan penelitian. Selain itu juga bermanfaat untuk mengenal Kebesaran Illahi melalui keajaiban alam yang merupakan ciptaan-Nya berupa berbagai keaneragaman hayati yang sangat beraneka ragam yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri.

Namun dalam pelaksanaanya, kegiatan ini memiliki resiko yang cukup tinggi. Karena tidak tidak didukung oleh fasilitas yang menunjang keselamatan pelaku atau pengunjung, justru sangat rentan terjadinya kecelakaan yang berpotensi menimbulkan bahaya atau mempersulit upaya penyelamatan korban. Meskipun bukan suatu hal yang diharapkan, kecelakaan (accident) memerlukan langkah antisipatif yang diantaranya dengan mengetahui jenis kecelakaan, akibat kecelakaan, penanganan dan evakuasi korban. Hal ini memerlukan pengetahuan untuk menghindari korban mengalami resiko cidera yang lebih besar.

Namun sebelum kita memasuki pembahasan kearah penanggulangan terhadap kecelakaan, akan lebih baik kita berbicara dulu mengenai urutan pertolongan pertama pada korban kecelakaan adalah :

1.  Jangan panik
Cekatan tetapi tetap tenang. Apabila kecelakaan bersifat massal, pertolongan diutamakan diberikan kepada korban yang menderita luka yang paling parah tapi masih mungkin untuk ditolong.

2.  Jauhkan/hindarkan korban dari kecelakaan berikutnya
Untuk mencegah terjadinya kecelakan ulang yang akan memperberat kondisi korban, selain itu penolong dapat memberikan pertolongan dengan tenang dan dapat lebih fokus perhatiannya pada kondisi korban yang ditolong.

3.  Perhatikan pernafasan dan denyut jantung korban.
Bila pernafasan penderita berhenti segera lakukan pernafasan bantuan.

4.  Perhatikan adanya pendarahan
Menggunakan saputangan atau kain yang bersih, tekan tempat pendarahan kuat-kuat menggunakan saputangan, dasi, baju, ikat pinggang, atau apapun juga agar saputangan tersebut menekan luka-luka itu. Jika memungkinkan, letakkan bagian pendarahan lebih tinggi dari bagian tubuh.

5.  Perhatikan tanda-tanda shock
Terlentangkan korban dengan bagian kepala lebih rendah dari letak anggota tubuh yang lain jika memungkinkan. Apabila korban muntah-muntah, baringkan telungkup dengan letak kepala lebih rendah dari bagian tubuh lainnya. Cara ini juga dapat dilakukan untuk korban yang dikhawatirkan tersedak muntahan, darah, atau air dalam paru-parunya. Bila penderita mengalami cedera dada atau penderita sesak nafas (tapi masih sadar) letakkan dalam posisi setengah duduk (semi fowler).

6.  Jangan memindahkan korban terburu-buru
Korban tidak boleh dipindahakan sebelum dapat dipastikan jenis dan keparahan cedera yang dialaminya, kecuali bila tempat kecelakaan tidak memungkinkan dibiarkan ditempat tersebut. Apabila korban hendak dipindahkan terlebih dahulu pendarahan harus dihentikan serta tulang-tulang yang patah dibidai. Usahakan kepala korban tetap terlindungi dan perhatikan jangan sampai saluran pernafasannya tersumbat.

7.  Segera transportasikan korban ke pusat pengobatan
Pertolongan pertama hanyalah sebagai basic life saving dan mengurangi kecacatan, bukanlah terapi. Segera serahkan keputusan tindakan selanjutnya kepada dokter atau tenaga medis yang kompeten di pusat pengobatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates