Sunday , 22 October 2017
artikel terbaru :
Home » Info Kesehatan » Depresi Pasca Melahirkan ( Postpartum Depression )

Depresi Pasca Melahirkan ( Postpartum Depression )

Depresi Pasca Melahirkan ( Postpartum Depression )

Depresi Pasca Melahirkan ( Postpartum Depression )

Depresi Pasca Melahirkan ( Postpartum Depression )

Depresi Pasca Melahirkan ( Postpartum Depression ) – Jauh sebelum depresi pasca melahirkan diidentifikasi, kondisi ini dianggap penyakit jiwa yang dialami perempuan setelah melahirkan. Pada 460 SM, Hippocrates memuaparkan teori tentang “puerperal fever” (demam nifas). Menurut teorinya demam nifas disebabkan oleh terhambatnya pelepasan cairan lochial (jaringan, darah, dan lendir yang keluar setelah melahirkan) yang diangkut ke otak sehingga menimbulkan delirium, agitasi, dan serangan mania.

Pada abad ke-11, ginekolog Trotula of Salerno berspekulasi dengan menyatakan bahwa “jika rahim terlalu lembab, otak diisi dengan air, dan cairan tersebut bergerak ke mata, sehingga tanpa sadar meneteskan air mata.” Pada abad ke-18, psikosis dan depresi nifas didefinisikan oleh Marce dalam karyanya Treatise on Insanity in Pregnant and Lactating Women. Namun pemahaman penyakit jiwa pasca melahirkan menjadi lebih sistematis pada pertengahan abad ke-19 ketika Esquirol menulis “keterasingan jiwa pada mereka yang baru saja melahirkan dan wanita menyusui”. Sekarang ini, informasi mengenai depresi pasca melahirkan lebih mudah didapatkan sehingga dengan dukungan keluarga, pendidikan yang tepat, dan perawatan kesehatan, kondisi ini bisa diobati. Berikt jenis-jenis depresi pasca melahirkan menurut tingkat keparahannya:

1. Baby Blues

Baby blues menggambarkan penarikan diri, jenis yang relatif ringan dari depresi pasca melahirkan. Biasanya dialami oleh 30 sampai 80 persen dari semua ibu baru. Gejalanya termasuk diantaranya adalah kesedihan, menangis, kemurungan, kecemasan, insomnia, dan kelelahan.
Baby blues terkadang terjadi mulai pada hari ke 3 – 10 setelah melahirkan dan berakhir dalam waktu dua minggu.

2. Postpartum Major Depression (Depresi Berat Postpartum)

Depresi berat postpartum terjadi pada sekitar 10 % wanita yang telah melahirkan. Depresi berat postpartum cenderung muncul pada tiga minggu atau lebih setelah melahirkan. Gejalanya meliputi perubahan pada suasana hati yang biasanya lebih parah dan berlangsung lebih lama. Diantaranya adalah konsentrasi yang buruk, kesulitan membuat keputusan, menangis sambil mengucapkan kata-kata tidak jelas, kesedihan, perasaan tidak mampu, dan pikiran untuk bunuh diri. Kadang diiringi juga dengan munculnya beberapa gejala fisik yang mirip dengan hypothyroidism, misalnya kelelahan, kulit kering, sensitivitas terhadap dingin, lambat dalam berpikir, sembelit, dan retensi urin.

3. Postpartum Psychosis Depression (Psikosis Postpartum)

Postpartum psychotic depression merupakan jenis depresi postpartum yang sangat jarang terjadi, yakni hanya 1-2 dari 1.000 perempuan. Sebagian besar kasus dimulai dalam dua minggu pertama setelah melahirkan, meskipun menurut hasil pengamatan puncak terjadi 1 – 3 bulan setelah melahirkan. Psikosis postpartum didahului oleh kebingungan, memburuknya insomnia, agitasi, masalah ingatan, iritabilitas dan kecemasan.

Gejalanya meliputi delusi, halusinasi, gangguan pikiran, serta respons yang tidak pantas atau tidak tertarik pada anak mereka. Gejala psikosis postpartum mengalami perubahan periode suasana hati yang ekstrim dengan diikuti oleh kesedihan yang mendalam atau marah. Adanya periode berpikir jernih, namun kondisi ini tidak selalu merupakan indikator pemulihan. Meskipun pemulihan terjadi tiba-tiba, umumnya psikosis postpartum berkembang menjadi depresi berat dan berkepanjangan.

About deden sofwan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates