Tuesday , 24 October 2017
artikel terbaru :
Home » Info Kesehatan » Mitos tentang Kecanduan

Mitos tentang Kecanduan

Mitos tentang Kecanduan

Mitos tentang Kecanduan

Mitos tentang Kecanduan

Mitos tentang Kecanduan – Survei yang dilakukan oleh Institut Nasional Penyalahgunaan Alkohol dan Alkoholisme Amerika, sekitar 8,5 % orang dewasa di Amerika termasuk ke dalam kriteria mengalami gangguan penggunaan alkohol, 2 % termasuk dalam kriteria gangguan penggunaan narkoba, dan 1,1 % memenuhi kriteria untuk keduanya. Statistik ini menunjukkan bahwa kecanduan akan zat bisa jadi jauh lebih banyak dari yang sudah diketahui. Terkait dengan kecanduan, banyak kesalahpahaman yang beredar di masyarakat. Diantaranya:

1. Pecandu adalah orang yang lemah dan bisa berhenti jika mereka benar-benar menginginkannya
Ketergantungan atau kecanduan tidak pandang bulu, kondisi ini bisa terjadi pada semua lapisan masyarakat. Pernyataan bahwa pecandu adalah orang yang lemah sama sekali tidak benar. Selain itu, sekali seseorang mengalami kecanduan zat, susunan kimia dalam otak mereka akan berubah sehingga mengakibatkan ketergantungan secara fisiologis pada zat tersebut. Kondisi ini bisa berbahaya. Perubahan mendadak saat ingin berhenti mengonsumsi zat tertentu dapat menimbulkan malapetaka pada tubuh mereka. Menghentikan kecanduan jauh lebih rumit dibandingkan dengan seseorang yang belum terpengaruh.

2. Seseorang yang kecanduan harus mencapai titik dasar sebelum berubah menjadi lebih baik
Meski beberapa kasus bisa jadi benar bahwa kehidupan pecandu biasanya hancur berantakan terlebih dahulu sebelum berubah ke arah lebih baik, namun mitos ini yang sangat berbahaya. Tidak sedikit pecandu yang meninggal sebelum mereka mencapai titik dasar. Oleh karena itu, penting bagi yang mengalami kecanduan untuk mendapat bantuan secepat mungkin. Jika terdapat keluarga atau teman dekat yang mengalami kecanduan, tidak perlu menunggu sampai mereka mencapai titik dasar, tetapi segeralah mencari bantuan untuk menolong mereka. Lembaga konseling atau terapi di pusat pelayanan kesehatan bisa menjadi salah satu alternatif tempat mencari pertolongan.

3. Satu program terapi cocok untuk semua orang
Ada banyak cara dan program terapi yang bisa dijalani untuk mengatasi kecanduan. Walaupun satu program berhasil pada seseorang, namun belum cocok untuk pecandu yang lain. Oleh karena itu, perlu pengkajian lebih lanjut terhadap masing-masing orang sehingga program terapi yang dijalani bisa berjalan efektif. Misalnya, menghentikan konsumsi zat tertentu secara drastis mungkin berhasil pada sebagian orang, namun pada orang lain bisa jadi sangat menyiksa. Selain mengurangi penggunaan zat secara bertahap, langkah yang bisa dilakukan adalah dengan berfokus untuk mengurangi bahaya yang muncul. Sebagai contoh, jika seseorang minum alkohol secara berlebihan selama seminggu kemudian mengemudi, intervensi pertama yang bisa dilakukan agar tidak berada di belakang kemudi.

4. Seseorang yang memiliki pekerjaan dan kehidupan yang mapan tidak mungkin mengalami kecanduan.
Mitos bahwa pecandu adalah orang terlantar dan tidak memiliki fungsi dalam masyarakat salah. Banyak orang yang memiliki perkerjaan dan kehidupan yang mapan bisa mengalami masalah kecanduan yang serius.

5. Orang yan sering kambuh tidak akan menjadi lebih baik
Kambuh merupakan masalah yang umum pada masa pemulihan. Kabar baiknya, orang tersebut masih dapat sembuh dari kecanduan meski berulang kali mengalami kekambuhan. Kekambuhan tidak berarti orang tersebut tidak akan pernah menjadi lebih baik. Hal demikian bisa menjadi tanda bahwa tindakan terapi mungkin ada yang harus diubah. Masih terdapat banyak bentuk pengobatan dan pemulihan yang dapat dilakukan untuk mengangani masalah kecanduan.

About deden sofwan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates