Sunday , 22 October 2017
artikel terbaru :
Home » Info Kesehatan » Menghindari Trauma Pasca Sakit Pada Anak

Menghindari Trauma Pasca Sakit Pada Anak

Menghindari Trauma Pasca Sakit Pada Anak

Menghindari Trauma Pasca Sakit Pada Anak

Menghindari Trauma Pasca Sakit Pada Anak

Menghindari Trauma Pasca Sakit Pada Anak – Apakah setelah sakit si anak akan trauma dengan sesuatu yang berbau dengan rumah sakit atau obat? Hal ini belum bisa dipastikan. Efek perawatan memang berbeda-beda pada setiap anak, tergantung usia dan kematangan pribadi anak, selain juga pendekatan yang dilakukan oleh tim medis saat si anak ditangani sakitnya.

Orang Asing Sumber Stres si Anak

Pada anak, masuk ke lingkungan yang sama sekali baru, dapat memicu stres. Penyebabnya, selama ini anak lebih banyak di rumah bersama orang tua sehingga interaksi dengan lingkungan sosialnya terbatas. Pada anak belum punya pengalaman yang luas untuk bersosialisasi dengan orang-orang di luar rumah, sehingga jika tiba-tiba masuk rumah sakit, itu menjadi stressor tersendiri.

Apalagi jika dalam pemeriksaan ada tindakan-tindakan terhadap fisik anak. Misalnya, orang asing yang notabene adalah dokter menyentuh tubuhnya untuk melakukan pemeriksaan, bahkan sampai menyuntiknya. Hal ini bisa menjadi persepsi yang menakutkan bagi anak.

Stres yang timbul setelah sakit umumnya terjadi apabila anak harus kembali lagi ke RS dan berhadapan dengan orang asing. Pasca rawat inap, bila selanjutnya anak harus berobat atau diterapi dalam jangka waktu lama, penerimaan setiap anak dapat berbeda-beda.

Cara Menghindari Trauma Pasca Sakit

Bermain alat-alat kedokteran selagi kecil sebetulnya dapat membantu anak dalam memahami realita sakit bila kelak dia harus berhadapan dengan orang-orang yang menangani penyakitnya. Untuk menghindari anak mengalami trauma pasca sakit, pada saat penanganan penyakitnya itu anak harus mendapatkan pengalaman seperti bermain. Selanjutnya jika dia diajak untuk ke dokter atau ke rumah sakit lagi, dia bisa lebih menerima.

Lalu jika semisal setiap hari si anak harus diberikan terapi melalui disuntik, ketika dia menangis dan berkata “sakit”, maka orang tua harus memberikan respon yang positif. Artinya, orang tua harus memahami dan menenangkan anak, bukan malah memarahinya, respon yang positif dari orang tua dapat memberikan kenyamanan pada anak agar terapi suntikan bisa tetap diberikan.

Selanjutnya, yang harus dijelaskan pada anak usia di bawah 6 tahun bukanlah alasan mengapa dia harus disuntik setiap hari dan penjelasan mengenai penyakitnya, tetapi memberikan lingkungan yang aman dan nyaman baginya. Mungkin pada saat disuntik ia merasa kesakitan lalu menangis, namun jika ayah dan ibu ada di dekatnya dan menunjukkan reaksi yang tenang, anak akan lebih cepat diam. Apalagi jika dokter yang menanganinya sudah dikenal dengan baik.

Itulah mengapa, dalam penanganan penyakit kronis pada anak yang membutuhkan terapi terus-menerus, idealnya dokter dan tim kesehatan yang bertugas harus bisa membuat diri mereka seperti bagian dari keluarga.

Jika di lihat dari perkembangan psikososialnya, pada anak usia sekolah (6-12 tahun) sedang berada dalam fase dimana ia sangat menjunjung tinggi keberhasilan. Ia berpikir bahwa dengan keberhasilan, dirinya akan mendapat pujian dan penghargaan dari orang sekitar.

Lalu jika kemudian anak sering absen karena harus bolak-balik ke dokter untuk menjalani terapi kesehatan atau bahkan harus dirawat di RS, hal ini dapat memicu stres tersendiri karena ia takut menghadapi kegagalan. Biasanya ia merasa takut mengejar ketertinggalannya dari teman-teman sekolahnya. Apalagi jika nilai pelajaran sekolahnya memang turun. Anak akan merasa minder karena dia tidak bisa sama dengan teman-temannya dalam hal belajar.

Absen dari kegiatan sekolah tentu saja membuat anak was-was karena menganggap semua teman adalah kompetitornya. Dia merasa akan terancam kepintarannya dan merasa tidak diterima oleh lingkungannya lagi karena dia menjadi nomor dua atau bahkan nomor tiga. Selanjutnya, terhadap orang tuanya, anak akan menyimpan rasa bersalah dan rendah diri.

Orang tua harus memahami, bahwa anak yang baru sembuh dari sakit atau masih dalam terapi (pengobatan), maka kondisinya berbeda. Maklumi saja jika semisal prestasi belajarnya turun. Jika perlu ciptakan unsur-unsur yang kondusif bagi anak.

Hal ini dapat dilakukan dengan cara lebih banyak mengajak anak berdialog guna menjaga kesehatan mentalnya setelah sakit agar tetap baik, bahkan meningkat. Dalam dialog tersebut, orang tua bisa mengajarkan bahwa kesuksesan tidak selalu dinilai dari nilai-nilai pelajaran dan ranking yang di dapat di sekolah. Disini orang tua bisa menekankan bahwa kesehatan juga penting, dan  anak diajak melihat bahwa kesembuhan itu merupakan suatu rahmat.

Pada anak yang harus mengikuti terapi lanjutan pasca rawat inap pada umumnya sudah mengetahui prosedur medis yang kerap dilakukan padanya. Misalnya, harus disuntik setiap hari dan bagaimana aturan untuk minum obat setelah pulang dari rumah sakit. Hal yang sudah diketahuinya tidak akan sampai menimbulkan rasa trauma. Namun tentunya, prosedur medis ini harus dijelaskan terlebih dahulu pada anak. Akan lebih baik lagi, bila yang menjelaskan adalah orang-orang yang terkait dengan dirinya, misalnya dokter atau orang tuanya.

Jika anak telanjur mengalami trauma pasca sakit, maka untuk mengatasinya diperlukan psikoterapi dan terapi keluarga agar pola asuh serta penerimaan orang tua terhadap anak bisa diperbaiki agar lebih realistis.

Pada umumnya, orang tua cenderung memberikan perhatian lebih pada anak yang sakit dengan alasan anak ini membutuhkan penanganan yang lebih. Memang benar iya, namun tanpa disadari, perlakuan mengistimewakan ini dapat menimbulkan dampak negatif pada perkembangan kepribadiannya. Bisa jadi ia sulit berkembang menjadi pribadi yang mandiri, emosinya menjadi lebih labil, toleransi terhadap frustrasi rendah, akan cenderung lebih sering menuntut, dan kurang “tahan banting” atau daya juang cenderung rendah.

About novi iin safitriani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates