Wednesday , 18 October 2017
artikel terbaru :
Home » Info Kesehatan » Apa-apa Saja Zat Karsinogen di Sekitar Kita

Apa-apa Saja Zat Karsinogen di Sekitar Kita

Apa-apa Saja Zat Karsinogen di Sekitar Kita

Apa-apa Saja Zat Karsinogen di Sekitar Kita

Apa-apa Saja Zat Karsinogen di Sekitar Kita

Apa-apa Saja Zat Karsinogen di Sekitar Kita – Apa itu karsinogen? Karsinogen (cancer-causing agents) ialah bahan yang bisa memicu ataupun mendorong terjadinya kanker. Kanker mungkin telah terkenal sebagai penyebab banyaknya kematian pada manusia sehingga banyak orang merasa takut apabila mendengar kata kanker. Sampai saat ini pun para peneliti masih terus mengkaji sumber daya alam yang dapat didayagunakan sebagai obat anti kanker baik sebagai multidrug resistance (MDR) modulator ataupun sebagai zat anti karsigonik lainnya.

Karsinogen Alamiah

Sebenarnya tidak semua karsinogen berupa bahan kimia sintetik. Beberapa peneliti memperkirakan 99,99% karsinogen yang kita cerna merupakan karsinogen alamiah. Tumbuh-tumbuhan menghasilkan senyawa tertentu untuk melindungi mereka dari jamur, serangga, dan binatang termasuk manusia. Beberapa senyawa yang dihasilkan tumbuhan ini adalah karsinogen yang ditemukan pada jamur, seledri, basil, kurma, lada, adas, parsnips, dan minyak sitrus. Karsinogen juga dihasilkan selama proses pemasakan dan sebagai hasil dari metabolisme normal.

Jenis Karsinogen

Beberapa karsinogen yang sangat berbahaya yaitu hidrokarbon aromatik, pada umumnya yang paling dikenal adalah 3,4-benzpirena. Hidrokarbon karsinogenik terbentuk selama proses pembakaran tidak sempurna dari hampir setiap senyawa organik. Mereka dapat ditemukan dalam batubara, pembakaran kendaraan bermotor, kopi, asap rokok gula gosong dan lain sebagainya. Tidak semua hidrokarbon aromatik polisiklik merupakan sumber karsinogen. Nampaknya sifat karsinogen tidak hanya disebabkan oleh hidrokarbon semata akan tetapi dapat terbentuk dikarenakan produk oksidanya dalam hati.

Jenis karsinogen yang lain ialah amina aromatic, seperti b-naftilamina dan benzidina. Kedua senyawa ini digunakan di industri zat warna. Kedua senyawa ini bertanggung jawab untuk terjadinya kanker kandung kemih pada pekerja yang melakukan kontak lama dengan bahan senyawa tersebut.

Beberapa pewarna aminoazo juga menunjukkan hal yang sama “karsinogen”, misalnya 4-dimetilaminobenzena. Pada senyawa ini dikenal sebagai “pewarna kuning mentega”. Senyawa ini digunakan sebagai pewarna mentega sebelum diketahui sifat karsinogennya.

Tidak semua karsinogen merupakan senyawa aromatik, di antaranya adalah nitrosamin dan vinil klorida. Pada senyawa lainnya merupakan cincin heterosiklik tiga- dan empat anggota yang mengandung oksigen ataupun nitrogen, seperti etilenaimina, epoksida dan turunannya, ester siklik yang juga disebut sebagai lakton.

Yang Berbahaya Dilingkungan Kita:

1. Bekas Botol Air Dalam Kemasan

Terkadang sebagian dari kita mempunyai kebiasaan memakai ulang botol plastik dan menaruhnya di dalam mobil atau dikantor. Ini merupakan kebiasaan yang tidak baik, karena bahan plastik botol (polyethylene terephthalate or PET) yang dipakai pada botol ini mengandung zat-zat karsinogen. Botol ini aman hanya untuk dipakai 1-2 kali saja, jika anda ingin memakainya lebih lama, pemakaiannya tidak boleh lebih dari seminggu, dan harus ditaruh ditempat yang jauh dari sinar matahari. Kebiasaan mencuci ulang botol dapat membuat lapisan plastik rusak dan zat karsinogen itu dapat masuk ke air yang kita minum. Akan lebih baik jika membeli botol air yang memang dapat dipakai secara berulang-ulang, dan jangan berupa botol plastic.

2. Penggemar Sate

Jika anda makan sate, jangan lupa untuk makan timun setelahnya. Karena pada saat kita makan sate sebetulnya ikut juga karbon dari hasil pembakaran arang yang bisa menyebabkan kanker. Disarankan untuk makan timun setelah makan sate, karena sate mempunyai zat Karsinogen (penyebab kanker) akan tetapi timun ternyata punya anti karsinogen.

3. Udang dan Vitamin C

Tidak disarankan makan udang setelah makan Vitamin C. Karena ini dapat menyebabkan keracunan dari racun arsenik (As) yang merupakan proses reaksi dari Udang dan Vitamin C di dalam tubuh dan dapat mengakibatkan keracunan yang fatal dalam hitungan jam.

4. Mie Instan

Untuk penggemar mie instan, pastikan anda punya selang waktu konsumsi paling tidak tiga hari setelah anda mengkonsumsi mie instan, jika anda akan mengkonsumsinya lagi, ternyata pada mie instan terdapat lilin yang melapisi mie. Itu sebabnya mie instan tidak lengket satu sama lainnya ketika dimasak. Konsumsi mie instan setiap hari dapat meningkatkan kemungkinan seseorang beresiko untuk terjangkit kanker.

5. Bahaya Dibalik Kemasan Makanan

Kemasan makanan merupakan bagian dari makanan yang kita konsumsi. Bagi sebagian orang, kemasan makanan hanya sekadar pembungkus makanan dan sering kali dianggap sebagai “pelindung” makanan. Sebetulnya tidak tepat seperti itu, tergantung jenis bahan kemasan yang digunakan. Sebaiknya mulai sekarang harus lebih cermat memilih kemasan makanan. Ada banyak kemasan yang dapat digunakan sebagai pengemas primer pada makanan, yaitu kemasan yang bersentuhan langsung dengan makanan. Tetapi tidak semua bahan yang digunakan pada pengemasan aman bagi makanan yang dikemasnya.

Bahan Kemasan Makanan Yang Perlu Diwaspadai:

1. Kertas

Beberapa kertas kemasan dan non-kemasan seperti; kertas, koran dan majalah, yang sering digunakan sebagai membungkus makanan, terdeteksi mengandung timbal (Pb) melebihi ambang batas yang ditentukan. Dalam tubuh manusia, timbal masuk melalui saluran pernapasan atau pencernaan kemudian menuju sistem peredaran darah dan menyebar ke berbagai jaringan tubuh lain, seperti; ginjal, hati, otak, saraf dan tulang. Pada orang dewasa terjadinya keracunan timbal ditandai dengan gejala 3 P, yaitu pallor (pucat), pain (sakit) dan paralysis (kelumpuhan). Keracunan timbal bisa bersifat kronis dan akut. Untuk menghindari makanan yang terkontaminasi logam berat timbal, memang susah-susah gampang. Banyak makanan jajanan yang dibungkus dengan Koran, seperti; pisang goreng, tahu goreng dan tempe goreng karena pengetahuan yang kurang dari si penjual, padahal makanan yang panas dan berlemak mempermudah berpindahnya timbal ke makanan tersebut.

2. Styrofoam

Saat ini bahan pengemas styrofoam atau polystyrene telah menjadi salah satu pilihan yang paling populer dalam bisnis pangan. Tetapi, berdasarkan riset terkini membuktikan bahwa styrofoam diragukan keamanannya untuk kesehatan tubuh. Styrofoam dibuat dari kopolimer styren ini menjadi pilihan bisnis pangan karena mampu mencegah kebocoran dan tetap mempertahankan bentuknya pada saat dipegang. Selain itu, bahan tersebut juga mampu mempertahankan panas ataupun dingin serta tetap nyaman dipegang, dapat mempertahankan kesegaran dan keutuhan bahan yang dikemas, biaya murah, serta ringan. Residu styrofoam itu dapat menyebabkan endocrine disrupter (EDC), yaitu suatu penyakit yang terjadi akibat adanya gangguan sistem endokrinologi dan reproduksi manusia yang diakibatkan bahan kimia karsinogen dalam makanan.

About novi iin safitriani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates