Monday , 24 July 2017
artikel terbaru :
Home » Info Kesehatan » Efek Preeklampsia Pada Ibu dan Janin

Efek Preeklampsia Pada Ibu dan Janin

Efek Preeklampsia Pada Ibu dan Janin

Efek Preeklampsia Pada Ibu dan Janin

Efek Preeklampsia Pada Ibu dan Janin

Efek Preeklampsia Pada Ibu dan Janin – Komplikasi dari tekanan darah tinggi terjadi pada hampir 10 % dari seluruh kehamilan serta insiden akan lebih besar bila wanita tersebut mengandung janin kembar.
Preeklampsia merupakan salah satu penyebab kematian utama bagi para ibu di negara-negara berkembang. Hal ini juga merupakan penyebab utama morbiditas (kesakitan) serta mortalitas (kematian) perinatal serta sangat terkait dengan terhambatnya pertumbuhan janin. Penyebab preeklamsia sendiri sampai saat ini masih menjadi perdebatan antara para ahli, karena masih belum bisa dipastikan apa yang menjadi penyebab langsung terjadinya penyakit ini.

1. Dampak pada sang ibu
Wanita yang memiliki tekanan darah tinggi selama kehamilan mempunyai risiko lebih tinggi untuk mengalami komplikasi kehamilan, kelahiran, serta dalam masa nifas. Peningkatan risiko itu berlaku untuk ibu serta janin. Wanita hamil dengan hipertensi dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu wanita normotensif yang mengalami sindrom preeklampsia, ditandai dengan hipertensi, proteinuria, serta edema; dan wanita dengan hipertensi kronis serta berisiko lebih besar untuk terkena preeklampsia.
Preeklampsia ialah bentuk komplikasi paling serius dalam hipertensi kehamilan, namun bukan berarti penyebabnya ialah penyakit hipertensi; ini merupakan gangguan yang disebabkan oleh kehadiran plasenta. Preeklampsia diawali dengan plasenta abnormal dan oleh karena itu, mengakibatkan berbagai masalah lainnya yang berhubungan dengan sistem vaskular.
Preeklampsia mempunyai dampak pada fungsi ginjal. Preeklampsia juga mungkin akan dibuat lebih rumit dengan hadirnya kejang-kejang yang disebut juga eklampsia. Bahaya terbesar ialah apabila kemudian muncul sindrom HELLP (Hemolysis, Elevated Liver Enzimes and Low Platelet Count) / hemolisis, peningkatan enzim hati serta jumlah trombosit yang rendah. Sindrom HELLP, bersama hadirnya dengan preeklampsia, dapat mengakibatkan banyak kematian pada ibu terkait dengan hipertensi.
Kondisi ini akan sembuh dengan sendirinya setelah janin serta plasenta dilahirkan, akan tetapi janin terancam mengalami hambatan pertumbuhan dalam kandungan serta kelahiran prematur, sehingga mungkin memerlukan perawatan lebih lanjut segera setelah lahir. Pengobatan hipertensi tidak bisa mencegah hal ini, namun masih bisa digunakan untuk mencegah komplikasi kardiovaskular pada ibu, terutama selama persalinan juga melahirkan.
Sebagian besar pasien dengan hipertensi kronis ringan mempunyai kehamilan yang sukses. Risiko bagi ibu serta janin jauh lebih tinggi pada hipertensi kronis berat juga pada pasien dengan penyakit organ yang lainnya. Pasien – pasien ini idealnya harus menjalani konseling tentang risiko – resiko yang mungkin akan terjadi pada mereka sebelum kehamilan.

2. Dampak pada janin
Hasil perinatal sangat dipengaruhi oleh usia kehamilan serta parahnya tingkat hipertensi. Preeklampsia berat akan memberikan tingkat cedera yang berbeda – beda pada setiap janin. Dampak utama pada janin ialah kekurangan gizi akibat kekurangan vaskular uteroplasenta, hal ini mengarah pada gangguan pertumbuhan.

Terdapat efek jangka pendek juga panjang. Dampak langsungnya yaitu mengubah pertumbuhan janin yang dapat mengakibatkan kecacatan janin yang lebih besar. Kesehatan janin dan berat badannya sangat terganggu, hal ini mengarah ke berbagai tingkat morbiditas janin, serta mungkin menyebabkan kematian janin.
Tindak lanjut penelitian jangka panjang sudah menunjukkan bahwa bayi yang menderita hambatan pertumbuhan dalam rahim lebih mungkin untuk mengalami hipertensi, penyakit arteri koroner, serta diabetes pada saat dewasa.
Banyak janin harus bisa beradaptasi dengan pasokan nutrisi yang sangat terbatas. Dalam hal ini, mereka akan mengubah struktur serta metabolisme mereka secara permanen atau selamanya. Perubahan ini mungkin bisa menjadi penyebab dari sejumlah penyakit pada kemudian hari, termasuk penyakit jantung koroner serta gangguan terkait seperti stroke, diabetes dan hipertensi.
Bayi yang ukurannya kecil / tidak proporsional pada saat lahir, atau juga yang telah mengalami perubahan pertumbuhan plasenta, sekarang diketahui sudah mempunyai peningkatan risiko penyakit hipertensi, jantung koroner dan diabetes non-insulin ketika dewasa. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mungkin janin jauh lebih sensitif terhadap pasokan nutrisi yang berasal dari plasenta ibu. Penyakit jantung saat dewasa mungkin diakibatkan dari adaptasi janin ketika pasokan nutrisi dari plasenta ibu gagal dalam menyesuaikan dengan permintaan nutrisi janin.
Semoga artikel ini bisa menambah informasi serta bermanfaat bagi kita semua.

About seli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates