Sunday , 26 March 2017
Home » Info Kesehatan » Bayi Kuning atau Ikterus Neonatorum

Bayi Kuning atau Ikterus Neonatorum

Bayi Kuning atau Ikterus Neonatorum

Bayi Kuning atau Ikterus Neonatorum

Bayi Kuning atau Ikterus Neonatorum

Bayi Kuning atau Ikterus Neonatorum – Ikterus neonatorum ialah perubahan warna menjadi kuning yang terjadi pada neonatus / bayi yang baru lahir. Perubahan warna ini bisa dilihat pada rongga mulut, mata, dan kulit. Ikterus neonatorum bisa bersifat fisiologis / normal terjadi pada bayi baru lahir, atau patologis / yang tidak normal pada bayi baru lahir serta dapat mengancam nyawa. Sekitar 65% dari bayi baru lahir menderita ikterus pada minggu pertama setelah lahir serta sekitar 1% dari bayi baru lahir mengalami ikterus hingga bisa mengancam nyawa / yang disebut juga sebagai kernikterus.

Pada orang-orang dengan ras Asia ditemukan lebih banyak mengalami ikterus neonatorus dengan kadar bilirubin > 12 mg/dL daripada ras kulit putih dan negro. Pada bayi-bayi premature terjadi peningkatan angka kejadian ikterus neonatorum jika dibandingkan dengan bayi-bayi yang cukup bulan.

GEJALA
Gejala utama yang bisa dilihat pada bayi ialah perubahan warna menjadi kuning yang bisa dilihat pada mata, rongga mulut, dan kulit. Perubahan ini awalnya mudah tampak dari mata kemudian apabila makin berat bisa menjalar hingga ke perut, tangan, dada, paha, hingga ke telapak kaki. Penting untuk mengetahui kapan awal terjadinya kuning pada bayi tersebut karena bisa menentukan apakah ikterus ini bersifat fisiologis / bersifat patologis. Disamping itu, pada bayi dengan ikterus neonatorus yang normal, bayi tampak sehat serta tidak rewel. Jika ditemukan kuning disertai dengan anak lesu, malas menetek, juga rewel, perlu dicurigai sebagai ikterus neonatorus patologis serta memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Tanda-tanda terjadinya ikterus neonatorum yang bersifat fisiologis:

• Gejala kuning muncul pertama kali lebih dari 24 jam setelah lahir;

• Kenaikan kadar bilirubin < 5 mg/dL;

• Puncak dari kenaikan kadar bilirubin muncul di hari ke 3 sampai 5 dengan kadar bilirubin < 15 mg/dL;

• Gejala kuning yang muncul menghilang dalam kurun waktu 1 minggu untuk bayi cukup bulan serta 2 minggu pada bayi yang premature / kurang bulan.

Jika kuning yang muncul selain dari kriteria yang ada di atas, maka dapat dimasukkan ke dalam tipe ikterus neonatorum yang bersifat patologis sehingga perlu eveluasi serta pemeriksaan yang lebih lanjut. Pemeriksaan yang dilakukan berguna untuk mengetahui penyebab dari ikterus patologis itu, contoh pemeriksaan yang dapat dilakukan :

• Kadar bilirubin serial / diperiksa berulang-ulang sehingga dapat dipantau kenaikan kadar bilirubinnya. Jika kadar tinggi dapat segera diambil tindakan;

• Golongan darah serta rhesus dari ibu dan bayi. Sering terjadi ikterus karena golongan darah / rhesus ibu dan bayi tidak sesuai;

PENYEBAB
Pada bayi yang baru lahir terjadi perubahan dari sel darah merah / eritrosit ketika di dalam kandungan menjadi sel darah merah di luar kandungan. Sel-sel darah merah yang terdapat di dalam kandungan akan hancur serta digantikan oleh sel darah merah di luar kandungan. Sel darah merah yang hancur itu di dalam proses penghancurannya menghasilkan bilirubin indirek. Bilirubin indirek ini supaya bisa dibuang dari dalam tubuh memerlukan enzim yang bernama uridildiphosphoglukoronil transferase (UDPGT). Proses itu dilakukan di dalam hati menjadi bilirubin direk kemudian masuk ke dalam usus. Di dalam usus, kemudian diproses bersama dengan kuman-kuman di dalam usus. Hasil akhirnya kemudian dibuang bersama dengan buang air besar (BAB).
Pada bayi-bayi yang baru lahir, terjadi perubahan pada sel darah merah di dalam kandungan menjadi sel darah merah di luar kandungan dalam jumlah yang besar sehingga produksi dari bilirubin indirek menjadi tinggi. Pada bayi baru lahir kemampuan UDPGT di dalam hati untuk bisa mengubah seluruh bilirubin indirek menjadi bilirubin direk belum maksimal. Disamping itu, usus bayi baru lahir pun masih bersih dan belum terdapat kuman-kuman yang dapat mengubah bilirubin direk agar bisa dibuang bersama dengan BAB serta pergerakan atau motilitasnya juga belum maksimal sehingga bilirubin direk tersebut bisa diserap kembali melalui usus serta masuk ke dalam hati lagi.
Kadar bilirubin indirek yang tinggi bisa berbahaya karena bilirubin tersebut bisa masuk serta menembus sawar otak sehingga menimbulkan kernikterus dan bisa mengancam nyawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates