Sunday , 26 March 2017
Home » Info Kesehatan » Indikasi Dan Alasan Medis Dilakukannya Operasi Sectio Caesarea

Indikasi Dan Alasan Medis Dilakukannya Operasi Sectio Caesarea

Indikasi Dan Alasan Medis Dilakukannya Operasi Sectio Caesarea

Indikasi Dan Alasan Medis Dilakukannya Operasi Sectio Caesarea

Indikasi Dan Alasan Medis Dilakukannya Operasi Sectio Caesarea

Indikasi Dan Alasan Medis Dilakukannya Operasi Sectio Caesarea – Sectio Caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut (laparatomi) dan dinding uterus atau suatu histerotomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim. Operasi Sectio Caesar merupakan suatu tindakan pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut (laparatomi) dan dinding uterus (histerektomi). Operasi bedah caesar ini dilakukan dengan melakukan sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut. Sectio caesaria merupakan suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram.

Indikasi
Indikasi dilakukan Operasi Sectio Caesarea apabila ada gangguan pada salah satu dari tiga faktor yang terlibat dalam proses persalinan yang menyebabkan persalinan tidak dapat berjalan lancar dan jika dibiarkan maka dapat mengakibatkan komplikasi yang dapat membahayakan ibu dan janin. Ada tiga faktor yang mempengaruhi Operasi Sectio Caesarea yaitu, jalan lahir (passage), janin (passanger) dan Kekuatan yang ada pada ibu (power).

Indikasi Sectio Caesarea

1. Bayi besar. Berat Badan bayi 4000 gram atau lebih (giant baby), menyebabkan bayi sulit keluar dari jalan lahir. Dengan perkiraan berat yang sama tetapi pada ibu yang berbeda maka tindakan persalinan yang dilakukan juga berbeda. Misalnya untuk ibu yang memiliki panggul terlalu sempit, berat janin 3000 gram sudah dianggap besar karena bayi tidak dapat melewati jalan lahir. Selain berat badan janin yang besar, berat badan janin kurang dari 2,5 kg, bayi yang lahir kurang dari 36 – 42 minggu (premature), dan dismatur, atau pertumbuhan janin terlambat, juga menjadi pertimbangan dilakukan Sectio Caesarea.

2. Letak sungsang. Resiko bayi lahir dengan letak sungsang dengan presentasi bokong pada persalinan normal diperkirakan 4x lebih besar dibandingkan dengan persalinan normal dengan letak kepala (UUB). Pada bayi cukup bulan (aterm), tahapan moulage kepala sangat penting agar kepala berhasil lewat jalan lahir. Pada keadaan tersebut persalinan pervaginam kurang menguntungkan. Karena pertama, persalinan akan terlambat beberapa menit akibat penurunan kepala menyesuaikan dengan panggul ibu, padahal hipoksia dan asidosis bertambah berat. Kedua, persalinan yang dipacu dapat mengakibatkan trauma karena penekanan, traksi ataupun kedua-duanya. Misalnya trauma otak, syaraf, tulang belakang, tulang rangka dan viseral abdomen.

3. Letak lintang. Kelainan letak lintang dapat disebabkan karena adanya tumor dijalan lahir, panggul sempit, kelainan dinding rahim, kelainan bentuk rahim, plesenta previa, cairan ketuban pecah banyak, kehamilan kembar dan ukuran janin. Keadaan tersebut mengakibatkan keluarnya janin terhenti dan macet dengan presentasi tubuh janin di dalam rahim. Bila dibiarkan terlalu lama, akan mengakibatkan janin kekurangan oksigen dan meyebabkan kerusakan otak janin.

4. Gawat janin. Diagnosa terjadinya gawat janin berdasarkan pada keadaan kekurangan oksigen (hipoksia) yang dapat diketahui dari DJJ yang abnormal ( kurang dari atau lebih dari 120 – 160x/menit), dan adanya mekonium dalam air ketuban. Normalnya, warna air ketuban pada bayi cukup bulan berwarna putih agak keruh, seperti air cucian beras. Jika tindakan seksio caesarea tidak segera dilakukan, dikhawatirkan akan terjadi kerusakan neurologis akibat keadaan asidosis yang progresif.

5. Janin abnormal, misalnya terjadi pada keadaan hidrosefalus, kerusakan Rh dan kerusakan genetik.

6. Plasenta previa. Keadaan dimana posisi plasenta terletak di bawah rahim dan menutupi sebahgian dan atau seluruh jalan lahir. Dalam keadaan tersebut, plasenta mungkin lahir lebih dahulu dari janin. Hal ini akan menyebabkan janin kekurangan O2 dan nutrisi yang biasanya diperoleh lewat plasenta. Bila tidak segera dilakukan SC, dikhawatirkan terjadi perdarahan pada tempat implantasi plasenta sehingga serviks dan SBR menjadi tipis dan mudah robek.

7. Solusio plasenta. Apaabila plasenta lepas lebih cepat dari korpus uteri sebelum janin lahir. Operasi SC dilakukan untuk mencegah kekurangan oksigen atau keracunan air ketuban pada janin. Lepasnya plasenta ditandai dengan adanya perdarahan yang banyak, baik pervaginam maupun yang menumpuk di dalam rahim.

8. Plasenta accreta. Merupakan keadaan dimana menempelnya sisa plasenta di otot rahim. Jika sisa plasenta yang menempel pada Rahim sedikit, maka rahim tidak perlu diangkat, jika banyak perlu dilakukan pengangkatan rahim (histeroktomi).

9. Tali Pusat Menumbung. Tali pusat berada di depan atau di samping bagian terbawah janin, atau tali pusat berada dijalan lahir sebelum bayi, dan keadaan bertambah buruk bila tali pusat tertekan.

10. Lilitan tali pusat keadaan dimana janin terlilit tali pusatnya di bagian leher atau bagian tubuh yang lain. Lilitan tali pusat ke tubuh janin akan berbahaya apabila kondisi tali pusat terjepit atau terpelintir sehinggga menyebabkan aliran oksigen dan nutrisi ketubuh janin tidak lancar. Lilitan tali pusat akan mengganggu turunnya kepala janin yang sudah waktunya dilahirkan.

11. Bayi kembar. Kelahiran bayi kembar mempunyai resiko terjadinya komplikasi yang lebih tinggi misalnya terjadi preeklamsia pada ibu hamil yang stress, cairan ketuban yang berlebihan.

12. Usia Ibu lebih dari 35 tahun. Ibu yang melahirkan pada persalinan pertama diatas usia 35th, memiliki resiko melahirkan dengan sectio caesarea karena pada usia tersebut ibu memiliki penyakit beresiko seperti hipertensi, jantung, DM, dan preeklamsia.

13. Cephalopevic disspiroprion. Apabila Ukuran panggul yang sempit dan tidak proporsional dengan ukuran janin menimbulkan kesulitan dalam persalinan pervaginam. Istilah Panggul sempit lebih sering dialami pada wanita dengan tinggi badan kurang dari 145 cm. Panggul Sempit dapat ditemukan pada satu bidang atau lebih, PAP dianggap sempit bila konjunctiva vera kurang dari 10 cm atau diameter transversal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates