Wednesday , 13 December 2017
artikel terbaru :
Home » Info Kesehatan » Efek Negatif Makanan Manis Bagi Otak

Efek Negatif Makanan Manis Bagi Otak

Efek Negatif Makanan Manis Bagi Otak

Efek Negatif Makanan Manis Bagi Otak

Efek Negatif Makanan Manis Bagi Otak

Efek Negatif Makanan Manis Bagi Otak – Tidak ada yang yang tidak suka makanan manis. Berbagai literatur sering menyatakan bahwa sebenarnya semua orang menyukai rasa manis, namun dengan kadar yang bervariasi. Namun, jika Anda penggemar fanatik makanan manis, maka Anda harus lebih berhati-hati dengan kesehatan Anda. Karena makanan yang banyak mengandunggula tidak hanya buruk bagi pengidap diabetes, namun juga buruk bagi kesehatan otak.

Berikut adalah efek negatif yang terjadi pada otak jika acapkali mengonsumsi makanan bergula tinggi

1. Otak Kecanduan Makanan Manis
Percaya maupun tidak, makanan yang manis dapat membuat anda kecanduan seperti kecanduan rokok atau alkohol. Saat makanan manis contohnya coklat, permen, atau es krim masuk ke mulut, lidah anda akan menerjemahkan rasa manis yang dibawa oleh gula dari makanan tersebut. Selanjutnya, syaraf di lidah langsung mengirimkan sinyal ke otak dan memicu produksi hormon kebahagiaan, yakni hormon dopamin.
Normalnya, hormon dopamin dapat dihasilkan dengan cara alami dalam tubuh bila Anda merasakan pengalaman yang menyenangkan. Akan tetapi, jika kadarnya terlalu tinggi dalam tubuh, hormon tersebut dapat menyebabkan kecanduan dan perasaan ingin mengonsumsi makanan manis lebih banyak.
Diketahui pada suatu studi ilmiah yang dilakukan pada sejumlah anak yang mengalami obesitas, makanan manis ditemukan dapat menguatkan bagian otak yang mengatur tanggapan food reward, yakni suatu keinginan untuk mendapat imbalan, namun yang dimaksud pada kasus ini imbalan yang diinginkan adalah makanan manis yang kadar gulanya tinggi tersebut.

2. Kemampuan untuk berpikir menurun
Suatu studi ilmiah yang dilaksanakan pada tahun 2012 di University of California Los Angeles (UCLA) memberi asupan fruktosa (sejenis gula monosakarida) pada tikus percobaan. Selanjutnya, pada akhir penelitian ditemukan bahwa asupan gula yang tinggi itu dapat mengakibatkan kerusakan syaraf yang menjadi pusat berpikir komunikasi pada tikus.
Selain hal tersebut, pada tikus percobaan juga diketahui bahwa terjadi resistensi terhadap hormon insulin, yakni hormon yang berperan untuk mengatur kadar gula darah atau glukosa dalam darah dan kinerja fungsi sel otak. Pada sistem syaraf pusat, hormon tersebut bertanggung jawab untuk mengkoordinasi sel-sel syaraf untuk komunikasi. Maka, apabila kadar hormon insulin tidak dalam batas normal akibat konsumsi makanan manis, dapat menyebabkan sel-sel syaraf tidak berkomunikasi dan terkoordinasi dengan baik sehingga banyak informasi yang tidak dapat tersampaikan, serta membuat kemampuan untuk mengingat memburuk.Meskipun penelitian ini dijalankan pada tikus, namun para peneliti yakin bahwa fenomena ini juga bisa terjadi dalam otak manusia.

3. Meningkatkan resiko depresi
Respon awal yang dapat terjadi saat Anda mengonsumsi makanan manis ialah meningkatnya hormon kebahagiaan yakni hormon dopamin. Meski demikian, apabila Anda terlalu sering mengonsumsi makanan-makanan tersebut, yang dapat dirasakan tidaklah kesenangan atau bahagia, namun perasaan depresi atau rasa tertekan. Gula dan segala makanan yang memilki kandungan karbohidrat sesungguhnya bisa merusak neurotransmitter (zat perantara komunikasi antarsel syaraf) dalam orak yang berperan untuk menstabilkan perasaan hati atau mood. Maka wajar bila setelah makan makanan yang tinggi kandungan gulanya, Anda dapat mengalami fluktuasi emosi.
Dugaan tersebut sudah dibuktikan pada suatu penelitian yang menungkapkan bahwa orang-orang yang seringkali mengonsumsi makanan instan dengan kandungan gula yang tinggi lebih beresiko mudah mengalami depresi serta sering merasa cemas yang berlebihan.

4. Kemampuan kognitif menurun dan beresiko Alzheimer
Sudah banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa sering makanan yang kadar gulanya tinggi dapat menyebabkan penyakit Alzheimer atau kerusakan sel otak yang menyebabkan gangguan memori. Suatu penelitian yang dilaksanakan pada tahun 2013 menyatakan bahwa kondisi resistensi terhadap insulin dan kadar gula darah yang tinggi bukan hanya merupakan gejala terjadinya penyakit diabetes saja, namun dapat meningkatkan resiko rusaknya sel dan jaringan otak yang bisa mengakibatkan penyakit Alzheimer. Sebagai tambahan, banyak peneliti yang menyatakan bahwa penyakit Alzheimer adalah penyakit diabetes tipe 3 karena penyakit seringkali muncul akibat memakan makanan manis yang berlebihan.
Demikian resiko dan efek negatif yang dapat terjadi jika terlalu banyak memakan makanan manis. Sebenarnya jika dimakan dengan wajar tidak akan menjadi masalah. Ingatlah selalu bahwa segala sesuatu yang berlebihan tidaklah baik.

About seli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates