Wednesday , 13 December 2017
artikel terbaru :
Home » Info Kesehatan » Beberapa Jenis Induksi Persalinan

Beberapa Jenis Induksi Persalinan

Beberapa Jenis Induksi Persalinan

Beberapa Jenis Induksi Persalinan

Beberapa Jenis Induksi Persalinan

Beberapa Jenis Induksi Persalinan – Induksi persalinan ialah suatu tindakan yang dilakukan untuk ibu hamil guna merangsang timbulnya kontraksi pada rahim sehingga proses persalinan bisa terjadi. Dari yang awalnya tidak ada tanda – tanda akan melahirkan lalu kemudian dilakukan tindakan sehingga muncul kontraksi. Hal ini dilakukan oleh ahli medis supaya mempermudah bayi keluar dari dalam rahim dengan cara melahirkan secara normal. Induksi persalinan tersebut dilakukan oleh karena beberapa faktor. Salah satunya ialah saat kehamilan sudah memasuki tanggal – tanggal yang telah di perkirakan untuk bersalin, bahkan dapat lebih dari waktu 9 bulan ataupun kehamilan yang sudah lewat dari waktunya. Di mana pada masa kehamilan melebihi umur 42 minggu, akan tetapi masih belum terjadi proses persalinan. Masalah yang ditimbulkan apabila masa kehamilan telah melewati waktu adalah plasenta tidak bisa memberikan nutrisi dan juga pertukaran CO2 atau O2 lalu sang bayi memiliki resiko kematian di dalam rahim.

Ada berbagai jenis induksi yang sering kali dilakukan oleh ahli medis antara lain :

1. Infus Oksitosin.
Hormon yang dihasilkan dari infus Oksitosin bisa mengakibatkan timbulnya kontraksi pada otot – otot polos rahim yang bisa digunakan pada dosis farmakologis yang dapat menginduksi terjadinya proses persalinan. Sebelum bayi terlahir, pada proses persalinan yang muncul secara alami, akan tetapi ternyata rahim pun sangat sensitif oleh oksitosin. Ketika proses persalinan itu terjadi, serviks bisa berdilatasi atau melebar yang kemudian dapat memulai refleks neural yang bisa menstimulasi lepasnya hormone oksitosin dan juga kontraksi rahim selanjutnya. Supaya bisa menghasilkan efek yang ada pada rahim, dibutuhkan dosis yang adekuat. Dosisnya sekitar 4 sampai 16 mili tiap menitnya. Akan tetapi dosis pada setiap orangnya berbeda – beda, pada umumnya dosis dimulai dari yang paling kecil dengan melihat kontraksi rahim serta kemajuan proses melahirkan.

2. Prostaglandin.
Pemberian hormon prostagladin ini dapat merangsang otot polos dan termasuk juga otot – otot yang ada pada rahim. Penggunaan hormon prostaglandin ini sebagai induksi saat persalinan yang ada di dalam jenis infus intravena dan juga dapat diberikan pervaginam. Ketika kehamilan memasuki usia aterm, induksi saat persalinan menggunakan hormone prostagladin ini cukup efektif dalam mempercepat proses persalinan, dan juga hal ini dapat menurunkan resiko melahirkan caesar.

3. Pemberian berupa cairan hipertonik
Pemberian cairan berupa cairan hipertonik intra uteri biasanya dapat digunakan guna merangsang timbulnya kontraksi pada rahim ketika kehamilan dengan janin yang sudah mati. Cairan hipertonik yang biasa digunakan ini dapat berupa urea ataupun cairan garam hipertonik 20. Akan tetapi kadang – kadang pemakaian urea ini di campur dengan menggunakan prostaglandin yang bisa memperkuat rangsangan kontraksi terhadap otot rahim. Akan tetapi, dengan cara seperti ini dapat menimbulkan beberapa penyakit yang cukup berbahaya. Contohnya penyakit gangguan pembekuan darah, hipernatremia, dan juga infeksi.

4. Amniotomi
Cara amniotomi artifisialisis ini dilakukan dengan cara memecahkan ketuban, baik pada bagian bawah dan depan / fore water ataupun bagian belakang / hind water dengan menggunakan alat khusus yaitu drewsmith catheter dan juga omnihook yang biasanya dikombinasi dengan pemberian hormon oksitosin.

5. Menggunakan Foley Catheter.
Dengan menggunakan alat seperti selang atau yang disebut juga foley catheter ini biasanya dilakukan untuk mematangkan serviks atau mulut rahim serta induksi persalinan. Hal yang menjadi kontraindikasi dengan cara ini ialah terdapat ketuban pecah, riwayat pendarahan, serta petumbuhan janin yang terhambat.

6. Rangsangan pada putting susu.
Rangsangan ini dapat berpengaruh pada hipofisus posterior yang bisa mengeluarkan hormone oksitosin, yang bisa mennyebabkan timbulnya kontraksi pada rahim. Rangsangan yang dapat dilakukan adalah dengan cara melakukan pijatan yang ringan dengan menggunakan ibu jari pada area putting susu. Supaya menghindari terjadinya lecet anda bisa menggunakan baby oil atau minyak zaitun. Pijatan ringan seperti ini dapat dilakukan selama kurang lebih setengah jam hingga satu jam. Lakukan pijatan seperti ini maksimal 3 x dalam satu hari. Tidak dianjurkan untuk melakukan pijatan di kedua payudara secara bersamaan, Karena hal ini di khawatirkan dapat merangsang kontraksi secara berlebihan.

About seli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates