Tuesday , 26 September 2017
artikel terbaru :
Home » Info Kesehatan » Ketindihan Dari Sudut Pandang Medis

Ketindihan Dari Sudut Pandang Medis

Ketindihan Dari Sudut Pandang Medis

Ketindihan Dari Sudut Pandang Medis

Ketindihan Dari Sudut Pandang Medis

Ketindihan Dari Sudut Pandang Medis – Pernahkah Kamu merasakan seakan terbangun dari tidur, tetapi tidak dapat bicara ataupun bergerak.? Masyarakat umumnya seringkali kali menyebutnya sebagai ketindihan. Sesungguhnya, peristiwa ketindihan ini dapat dijelaskan secara medis, meskipun banyak orang yang sering kali mengkaitkan dengan kejadian mistis.

Ketindihan, dalam ilmu medis dikenal dengan  sebutan sleep paralysis, yang merupakan peristiwa dimana ditandai dengan ketidakmampuan berbicara atau bergerak pada saat terbangun dari tidur atau ketika mau tidur. Kejadian ini dapat berlangsung selama beberapadetik sampai beberapa menit.

1.Faktor ketindihan dapat Dipicu oleh Kelumpuhan Otot

Otot dapat menjadi tidak aktif pada saat tidur, adalah sebuah hal yang normal. Pada saat waktu ketindihan ini terjadi, ketidakaktifan otot berlangsung untuk beberapa saat dari masa tidur ke masa sadar.

Pada waktu mengalami ketindihan, kemungkinan ada juga yang mengakibatkan seseorang merasa seperti sulit bernapas. Selain itu, tidak jarang ada yang dapat merasakan sensasi lain, seperti merasa adanya makhluk lain bersamanya.  Dan ini adalah jenis halusinasi yang pada umumnya terjadi.

2Jenis sleep paralysis ada dua yaitu :

Hypnagogic sleep paralysis. Paralysis atau kelumpuhan jenis ini dapat terjadi sebelum seseorang itu tertidur sepenuhnya. Pada umumnya terjadi ketika menjelang tidur, badan atau akan terasa semakin rileks dan perlahan-lahan  akan kehilangan kesadaran. Seseorang yang mengalami hypnagogic sleep paralysis ini, dirinya akan tetap tersadar, namun ia tak dapat berbicara ataupun menggerakkan tubuh.

Hypnopompic sleep paralysis. Kelumpuhan jenis ini dapat terjadi ketika seseorang tersadar pada akhir masa tidur. Pada umumnya, masa tidur dapat dibagi menjadi dua, yaitu NREM (non-rapid eye movement) dan REM (rapid eye movement). Jenis tidur NREM ini memiliki porsi sekitar 75 persen dari masa tidur, sedangkan sisanya menjadi masa tidur REM. Ketika orang tersadar sebelum masa REM berakhir, maka pada waktu itulah dapat terjadi hypnopompic sleep paralysis.

3.Faktor-faktor yang menyebabkan Ketindihan

Berikut beberapa hal yang mampu meningkatkan resiko seseorang mengalami fenomena ini adalah ketika mengalami kurang tidur ataupun pola tidur yang tak teratur. Pengaruh faktor usia, remaja atau dewasa muda adalah kalangan yang lebih berisiko.

Selain itu, ada lagi faktor resiko lain, misalnya dikarenakan faktor keturunan, tidur dengan posisi terlentang, stres, menderitap penyakit bipolar, mengalami kram kaki pada malam hari, serta penyalahgunaan obat-obatan.

Meskipun jarang terjadi, kelumpuhan masa tidur ini jugadapat menjadi gejala narkolepsi, yaitu sebuah gangguan tidur yang mengakibatkan penderitanya mengalami kesulitan untuk tetap terjaga lebih dari 3-4 jam.

Mencukupi Kebutuhan Tidur, Setiap orang memiliki kemungkinan akan mengalami ketindihan. Baik pada pria maupun wanita.Dimana ada yang mengalami ketindihan satu hingga dua kali seumur hidup saja, namun bisa juga yang mmengalami beberapa kali bisa satu bulan atau lebih sering lagi.

Fenomenan ketindihan dapat diatasi secara efektif dengan melakukan perubahan kebiasaan. Seperti memastikan tercukupinya kebutuhan porsi tidur sekitar 6-8 jam setiap malam, memperbaiki lingkungan tempat tidur, ataupun memulai tidur dan bangun pada jam yang sama secara berkelanjutan dan teratur.

Pola hidup yang sehat juga mampu mengurangi kemungkinan terjadinya sleep paralysis, seperti olahraga teratur, mengurangi minuman yang berkafein, menghindari minuman beralkohol dan berhenti merokok.

4.Tanda-tanda yang Perlu Diwaspadai

Kelumpuhan yang terjadi pada masa sedang tidur sering kali tidak membutuhkan penanganan  yang khusus, akan tetapi segera periksakan diri jika mengalami hal-hal berikut Seperti (1) rasa cemas atau kekhawatiran berlebihan. (2) Merasa lelah seharian. (3) tidak bisa tidur semalaman.

Selanjutnya, penggunaan obat-obatan boleh dilakukan asal berdasarkan saran dari dokter. Dimana, kemungkinan dokter akan memberikan obat antidepresan sebagai upaya membantu mengatasi hal tersebut.

Peristiwa ketindihan yang dialami seseorang pada umumnya membuat seseorang tersebut merasa takut, akan tetapi tidak perlu khawatir berlebihan. Dikarenakan dengan memperbaiki pola tidur dan menjalankan gaya hidup sehat, dapat mengurangi risiko terulangnya peristiwa ketindihan secara efektif. Apabila gejala masih berlanjut dan mulai mengganggu,  segera konsultasikan pada dokter agar memperoleh solusi terbaik.

About Pradini33

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates