Friday , 26 May 2017
artikel terbaru :
Home » Knowledge » Bagaimana Menghadapi Perayaan Ulang Tahun?

Bagaimana Menghadapi Perayaan Ulang Tahun?

Bagaimana Menghadapi Perayaan Ulang Tahun dalam Islam?

Bagaimana Menghadapi Perayaan Ulang Tahun dalam Islam?

Bagaimana Menghadapi Perayaan Ulang Tahun dalam Islam?

Bagaimana Menghadapi Perayaan Ulang Tahun dalam Islam? – Ada hari yang dirasa spesial bagi kebanyakan orang. Hari yang mengingatkan kita tentang hall yang jauh kebelakang di saat ia dilahirkan ke muka bumi, atau di saat masih dalam buaian dan saat-saat masih bermain dengan ceria menikmati masa kecil. Di saat hari itu datang, manusia pun menghitung kembali tahun-tahun yang telah dilaluinya di dunia. Ya, hari itu disebut dengan hari ulang tahun.

Bagaimana sikap yang Islami dalam menghadapi hari ulang tahun?

Apabila hari ulang tahun kita jalankan dengan melakukan perayaan, baik berupa acara pesta, atau makan besar, atau syukuran, dan semacamnya maka kita bagi dalam dua kemungkinan.

Kemungkinan pertama, perayaan tersebut dimaksudkan dalam rangka ibadah. Misalnya diperuntukan sebagai ritualisasi rasa syukur, atau seperti dengan acara tertentu yang di dalam ada doa-doa atau bacaan dzikir-dzikir tertentu. Atau bisa dengan ritual misalnya mandi kembang 7 rupa ataupun mandi dengan air biasa tetapi dengan keyakinan hal tersebut sebagai penghapus dosa-dosa yang terlah terjadi. apabila demikian maka perayaan ini masuk dalam kategori tentang bid’ah. Karena syukur, doa, dzikir, istighfar (pembersihan dosa), ialah bentuk-bentuk ibadah dan ibadah tidak bisa di karang sendiri bentuknya karena menjadi salah satu hak paten Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu kemungkinan ini menjadi hal yang dilarang dalam agama, karena Rasul kita Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda,

“Orang yang melakukan ritual amal ibadah yang bukan berasal dari kami, maka amalnya tersebut tertolak” [HR. Bukhari-Muslim]

Harus anda ketahui juga, orang yang melakukan dan membuat ibadah baru, bukan hanya tertolak amalannya, tetapi ia juga mendapat dosa, karena perbuatan tersebut dicela oleh Allah. Sebagaimana hadits,

“Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Saat aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas mengucapkan, ‘Wahai Rabbku, ini ialah umatku.’ kemudian Allah berfirman, ‘Engkau itu tidak mengetahui bid’ah yang mereka lakukan sesudahmu.’ “ (HR. Bukhari no. 7049)

Kemungkinan kedua, kita merayakan ulang tahun karena bertujuan tidak dalam rangka ibadah, tetapi karena tradisi, kebiasaan, adat atau bahkan hanya untuk senang-senang. Apabila demikian, sebelumnya harus diketahui bahwa dalam Islam, hari yang dirayakan secara berulang hanya Ied, misalnya Iedul Fitri, Iedul Adha, juga hari Jumat merupakan hari Ied dalam Islam. Setiap kaum muslimin mempunyai Ied masing-msing Maka Islam pun mempunyai Ied sendiri. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

“Setiap kaum memiliki Ied, dan hari ini (Iedul Fitri) adalah Ied kita (kaum Muslimin)” [HR. Bukhari-Muslim] lalu, Ied milik kaum muslimin sudah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya cuma ada 3, yaitu Iedul Fitri, Iedul Adha, dan hari Jumat. Kita yang merayakan hari ulang tahun secara rutin setiap tahun, maka Ied punya kaum manakah yang kita rayakan tersebut? Yang pasti bukan punya kaum muslimin.

Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda,
“Orang yang meniru suatu kaum, ia seolah ialah bagian dari kaum tersebut” [HR. Abu Dawud, disahihkan oleh Ibnu Hibban].

Maka orang yang merayakan Ied yang selain Ied milik kaum Muslimin seolah ia bukan bagian dari kaum Muslimin. Tetapi bukan berarti orang yang melakukan hal itu pasti keluar dari agamanya sebagai Muslim, namun paling tidak orang ini mengurangi kadar keislaman pada dirinya. Karena seorang Muslim yang sejati, tentu ia akan menjauhi hal tersebut. Kalian harus tau Allah Ta’ala saja menyebutkannya ciri hamba Allah yang sejati (Ibaadurrahman) salah satunya,

“Yaitu orang yang tidak ikut menyaksikan Az Zuur dan bila melewatinya ia berjalan dengan wibawa” [QS. Al Furqan: 72]

Rabi’ bin Anas dan Mujahid menerjemahkan Az Zuur pada ayat di atas ialah perayaan milik kaum musyrikin. Sedangkan Ikrimah menerjemahkan Az Zuur dengan permainan-permainan yang dilakukan ketika di masa Jahiliyah.

Jika ada yang bilang “Ada masalah apa dengan perayaan kaum musyrikin? Toh tak berbahaya apabila kita mengikutinya”. Jawabnya, seorang muslim yang yakin bahwa cuma Allah lah yang berhak disembah, seharusnya ia membenci setiap penyembahan kepada selain Allah dan pengikutnya. Salah satu yang seharusnya dibenci ialah kebiasaan dan tradisinya, ini berada dalam ayat,

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” [QS. Al Mujadalah: 22].

“Panjang umur bagi seseorang belum tentu akan menghasilkan hal yang baik, kecuali hidupnya digunakan dalam menggapai keridhaan Allah dan ketaatanNya. Sebaik-baik orang ialah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Manusia yang panjang umurnya dan buruk amalannya ialah manusia yang paling buruk. Yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin ra.

Oleh karena itu, sebagian ulama tidak menyukai do’a agar diberikan umur panjang secara mutlak. Ulama kurang menyetujui pernyataan : “Semoga Allah akan memberikan umur yang pajang” kecuali dengan tambahan pernyataan lanjutan seperti “Dalam ketaatanNya” atau “Dalam kebaikan” atau kalimat yang bermakna sama. Kalian tahu bahwa umur panjang terkadang belum tentu baik untuk yang bersangkutan, karena umur yang panjang apabila disertai dengan amalan yang buruk semoga Allah menjauhkan kita darinya yang hanya akan membawa kita kepada keburukan baginya, dan menambah siksaan dan malapetaka” [Dinukil dari terjemah
Fatawa Manarul Islam 1/43, di almanhaj.or.id].

Kalau begitu, perlakuan yang Islami dalam menghadapi hari ulang tahun ialah tidak mengadakan perayaan khusus, biasa-biasa saja dan berwibawa dalam menghindari perayaan seperti itu. Bersyukur atas nikmat Allah seperti kesehatan, kehidupan, usia yang panjang, sebaiknya dilakukan setiap saat bukan setiap tahun. Dan tidak perlu dilakukan dengan melakukan acara khusus, Allah Maha Mengetahui yang telihat dan yang tersembunyi di dalam hati dan dada. Dan kita juga harus mengoreksi diri kita apa yang kurang dan apa yang perlu ditingkatkan dari diri kita sepatutnya menjadi renungan harian setiap muslim, bukan renungan setiap tahun.
Wallahu’alam.

About putri indah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates