Thursday , 25 May 2017
artikel terbaru :
Home » Knowledge » Hukumnya Bercadar, Wajib, Sunah, ataukah Mubah?

Hukumnya Bercadar, Wajib, Sunah, ataukah Mubah?

Hukumnya Bercadar, Wajib, Sunah, ataukah Mubah?

Hukumnya Bercadar, Wajib, Sunah, ataukah Mubah?

Hukumnya Bercadar, Wajib, Sunah, ataukah Mubah?

Hukumnya Bercadar, Wajib, Sunah, ataukah Mubah? – Banyak tanggapan masyarakat di saat melihat seorang Muslimah yang menggunakan cadar. Ada yang berpandangan orang bercadar adalah orang sangat mendalam pemahaman agamanya.

Ada juga yang berargument, mereka terlalu berlebih-lebihan dalam beragama atau membuat susah sesuatu yang dimudahkan Allah SWT. Karena hukum fikih yang masyhur tentang aurat wanita, wajah dan telapak tangan bukanlah termasuk aurat. Namun, ada juga yang kurang setuju dengan pendapat tersebut, wanita bercadar merupakan kelompok ekstremis yang mempunyai pandangan Islam radikal.
Dalam fikih Islam, memang terdapat berbagai pandangan para fuqaha (ahli fikih) tentang cadar. “Janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya.” Menurut ahli fikih Surat an-Nur (24) ayat 31

Apakah yang biasa tampak dari wanita? Di sinilah muncul berbagai pendapat para ulama. Mayoritas ulama berpandangan, yang biasa tampak dari wanita ketika ayat ini diturunkan adalah wajah dan telapak tangan. Namun, ada juga pendapat-pendapat lainnya yang menafsirkan lain.

Seperti Mazhab Syafi’i dan Hambali yang beranggapan bahwa aurat wanita ialah seluruh tubuhnya. Kedua mazhab ini memerintahkan Muslimah untuk menutupi wajahnya dengan cadar. Para ulama dari mazhab ini berpandangan, ketika turunnya ayat hijab tersebut, para Muslimah langsung seketika itu mencari kain apa saja untuk menutupi aurat mereka.

Hal ini dikisahkan oleh Aisyah RA, “(Wanita-wanita Muhajirin) ketika turun ayat ini ‘Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka’ (QS an-Nur [24]:31), mereka merobek selimut mereka lalu mereka berkerudung dengannya.” (HR Bukhari). Aisyah RA memberikan contoh dalam memakai pakaian sesudah turunnya ayat tersebut yaitu dengan menutupi wajah mereka.

Para ulama dari kedua mazhab ini sering mengampanyekan betapa Islam menjaga wanita dengan menutupi seluruh tubuh mereka. Muhammad bin Qaasim al-Ghazzi dalam kitabnya Fathul Qaarib juga berpendapat sama. “Seluruh badan wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat. Ini aurat di dalam shalat. Kalaupun di luar shalat, aurat wanita ialah seluruh badan,” ucapnya menjelaskan.

Pendapat lainnya, Manshur bin Yunus bin Idris al-Bahuti dalam Kasyful Qanaa’ berpendapat sama. Menurutnya, wajah dan telapak tangan merupakan aurat saat shalat. “Adapun di luar shalat karena adanya pandangan, maka hukumnya sama seperti anggota badan lainnya.” jelasnya.

Tetapi, ulama yang tidak mewajibkan cadar ialah ulama Hanafi dan Maliki. Ulama Hanafi Asy Syaranbalali mengatakan, seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dalam serta telapak tangan luar. “Ini pendapat yang lebih sahih dan merupakan pilihan mazhab kami,” ucap Asy Syaranbali dalam Matan Nuurul Iidhah.

Ulama besar Mazhab Maliki Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya berpendapat, jika seorang wanita memiliki rupa yang cantik dan khawatir wajah dan telapak tangannya menimbulkan fitnah, hendaknya ia menutup wajahnya.

Tetapi untuk wanita yang sudah tua, mereka boleh saja memperlihatkan wajahnya.

Dari sekian banyak pendapat ulama, tak ada satu pun ulama yang secara tegas mewajibkan untuk memakai cadar sebagaimana wajibnya memakai jilbab. Ada ulama yang sebatas menyarankan, namun ada pula yang setengah mewajibkan. Hal itu semata-mata kembali pada kondisi dan situasi. Jika akan menimbulkan fitnah dan membuat mata lelaki jelalatan memandang wajahnya, tentu lebih disarankan untuk memakai cadar.

Golongan Salafi yang sangat kuat mengampanyekan cadar untuk pengikutnya, tidaklah sampai pada taraf mengaruskan. Dalam artian, siapa yang tidak memakai cadar adalah berdosa. Bahkan, ulama Salafi sendiri, Syekh Nasruddin al-Banni, pun tak berani mengatakan bahwa cadar adalah wajib. “Saya tidak mengatakan cadar itu wajib. Tetapi, istri dan keluarga saya, saya perintahkan untuk memakainya,” ujar al-Banni dalam kumpulan fatwanya.

Hal ini disebabkan adanya hadis sahih yang secara jelas berbicara soal batasan aurat wanita. Dari Aisyah RA, Rasulullah SAW pernah mengingatkan Asma’ binti Abu Bakar, “Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita apabila telah baligh tidak boleh lagi tampak dari tubuhnya kecuali ini dan ini (sambil menunjuk muka dan telapak tangannya).” (HR Abu Dawud).

Persoalan memakai cadar, mayoritas ulama lebih mengedepankan kondisi dan situasi dalam menetapkan hukumnya bagi para Muslimah. Apabila ia berada di daerah yang aman dan jauh dari pandangan laki-laki ajnabi (laki-laki asing), pasti memakai cadar tidak lagi diperlukan. Memakai cadar bisa juga sebagai syiar syariat Islam kepada masyarakat. Namun, hal ini juga bisa berbalik dan menjadikan masyarakat antipati dengan syariat Islam.
Di beberapa lingkungan, memakai cadar malah mengundang sinis dari masyarakat. Orang bercadar dianggap ekstrem dan berlebih-lebihan dalam beragama. Tentu di lingkungan seperti ini, jika seorang Muslimah tampil dengan cadarnya akan menyulitkan dakwah. Awalnya, masyarakat mau bersimpati dengan dakwah, akibat tampil dengan cadar, mereka jadi bersikap sinis dan menjauh. Allahu a’lam. Oleh Hannan Putra ed: Hafidz Muftisany

About putri indah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates