Monday , 11 December 2017
artikel terbaru :
Home » Info Kesehatan » Seputar Patogenesis dan Cara Penularan Penyakit Scabies

Seputar Patogenesis dan Cara Penularan Penyakit Scabies

Seputar Patogenesis dan Cara Penularan Penyakit Scabies

Seputar Patogenesis dan Cara Penularan Penyakit Scabies

Seputar Patogenesis dan Cara Penularan Penyakit Scabies

Seputar Patogenesis dan Cara Penularan Penyakit Scabies – Skabies merupakan jenis penyakit kulit yang diakibatkan oleh infestasi serta sensitisasi dengan Sarcoptes scabiei pada varian hominis serta produknya. Beberapa sinonim penyakit scabies ini yakni Kudis, gudig, The Itch, Budukan dan Gatal Agogo. Skabies adalah penyakit epidemik yang banyak terjadi di masyarakat. Terdapat dugaan bahwa pada setiap siklus 30 tahun akan terjadi epidemik scabies. Penyakit scabies ini banyak diteukan pada anak serta orang dewasa muda, akan tetapi bisa juga mengenai pada semua umur. Insidensi sama terhadap pria maupun wanita.Insidensi skabies di Negara yang berkembang menunjukan bahwa siklus fluktasi yang sampai pada saat ini belum bisa dijelaskan. Beberapa factor penyebab yang bisa membantu penyebaran penyakit ini yaitu hygiene yang tidak baik, kemiskinan, seksual promiskuitas, demografi, diagnosis yang salah, ekologi serta derajat sensitasi individual.
Sarcoptes scabiei merupakan termasuk filum Arthopoda, dengan kelas Arachnida, dan ordo Ackarina, serta superfamili Sarcoptes. Pada manusia dapat disebut dengan Sarcoptes scabiei var. hominis, sedangkan pada varietas terhadap mamalia lain bisa menginfestasi manusia, akan tetapi tidak bisa hidup lama.

Secara morfologik adalah tungau kecil, yang berbentuk oval, punggungnya akan cembung serta bagian perutnya yang rata. Tungau ini berwarna putih yang kotor, serta tidak bermata. Sarcoptes scabiei betina sesudah dibuahi akan mencari lokasi yang cocok di permukaan kulit agar kemudian dapat membentuk terowongan, dengan kecepatannya 0,5 mm sampai 5 mm per hari. Terowongan pada kulit bisa sampai ke perbatasan stratum korneum serta stratum granulosum. Di dalam terowongan tersebut tungau betina dapat tinggal selama hidupnya yakni kurang lebih 30 hari serta akan bertelur sebanyak 2 sampai 3 butir telur sehari.

Telur dapat menetas setelah 3 sampai 4 hari yang akan menjadi larva yang dapat keluar ke permukaan kulit kemudian dapat masuk ke dalam kulit lagi dengan menggali suatu terowongan yang biasanya sekitar pada folikel rambut agar dapat melindungi dirinya serta mendapat makanan. Sesudah beberapa hari, maka akan menjadi bentuk dewasa yang melalui bentuk nimfa. Waktu yang dibutuhkan dari telur sampai bentuk dewasa yakni sekitar 10 sampai 14 hari. Tungau jantan meiliki masa hidup dengan lebih pendek dari pada jenis tungau betina, serta memiliki peran yang kecil terhadap patogenesis penyakit. Sarcoptes scabiei betina bisa hidup diluar dalam suhu kamar selama lebih kurang 7 sampai 14 hari. Yang diserang yaitu bagian kulit yang tipis serta lembab, misalnya lipatan kulit pada orang yang dewasa. Pada bayi, sebab seluruh kulitnya masih dlaam kondisi tipis, dengan demikian seluruh badan bisa terserang.

Patogenesis
Kelainan kulit bisa diakibatkan tidak hanya oleh tungau skabies, akan tetapi juga pada penderita sendiri sebagai akibat garukan. Dan akibat bersalaman ataupun akibat bergandengan dengan demikian akan terjadi kontak kulit secara kuat, yang akan mengakibatkan kulit timbul di pergelangan tangan. Gatal yang akan terjadi diakibatkan oleh sensitisasi terhadap sekret serta ekskret tungau yang membutuhkan waktu kira – kira satu bulan sesudah infestasi. Pada saat itu terjadi kelainan kulit yang menyerupai dermatitis dengan dijumpai urtika, papul, vesikel, dan lainnya. Dengan garukan bisa timbul erosi, timbul ekskoriasi, krusta serta infeksi sekunder. Kelainan kulit serta gatal yang terjadi bisa lebih luas dari lokasi tungau.

Cara Penularan
Penyakit skabies bisa ditularkan dengan melalui kontak langsung ataupun kontak tidak langsung. Skabies dapat ditularkan oleh suatu kutu betina yang sudah dibuahi, dengan melalui kontak fisik yang erat maka penularan akan terjadi melalui pakaian dalam, melalui tempat tidur, melalui handuk, sesudah itu kutu betina dapat menggali lobang ke dalam epidermis lalu dapat membentuk terowongan di dalam stratum korneum.

About yanti nurjayanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates