Thursday , 25 May 2017
artikel terbaru :
Home » Beranda » Disleksia (Dyslexia): Kelainan atau Awal dari Kejeniusan?

Disleksia (Dyslexia): Kelainan atau Awal dari Kejeniusan?

Disleksia (Dyslexia): Kelainan atau Awal dari Kejeniusan?

Disleksia (Dyslexia): Kelainan atau Awal dari Kejeniusan?

Disleksia (Dyslexia): Kelainan atau Awal dari Kejeniusan?

Disleksia (Dyslexia): Kelainan atau Awal dari Kejeniusan? – Pernahkah anda mendengar sebuah film bollywod Film “Taree zamen”?. Dalam film tersebut menceritakan seorang anak yang super nakal yang berasal dari keluarga yang disiplin, terpelajar dan pekerja keras bahkan kakak kandungnya merupakan seorang anak yang cerdas dan selalu memperoleh peringkat (ranking) dalam semua bidang ilmu pengetahuan di sekolah maupun di luar sekolah. ” Moron” itulah panggilan yang diberikan olehnya yang berarti ”bodoh”. Kenakalannya bukan karena hal alami, akan tapi merupakan sebuah pelarian diri yang tidak banyak dipahami oleh guru ataupun temennya. Dalam cerita film tersebut, saat diberikan tes matematika perkalian yang sederhana yaitu 3 x 9 , ia tidak menjawab dengan prinsip matematika tetapi yang ada pikirannya adalah sebuah gambaran tata surya dimana pada posisi ket-3 adalah bumi dan diposisi ke 9 adalah pluto, seandainya terjadi benturan maka bumilah yang akan menang, kemudian ia menjawab bahwa 3 x 9 = 3 . Selain matematika, ketika ipelajaran bahasa ia diminta untuk membaca sebuah paragraph, spontanitas ia berkata ” tulisannya menari – nari” tentu saja sang guru kesal dan jengkel bukan main. Anak seperti itulah yang dikatakan sebagai anak yang memiliki kelainan Disleksia (dyslexia). Kelainan ini tidak mampu membedakan huruf antara “d dengan b”, M dengan W, angka 7 dengan L, dan selalu membuat kesalahan berulang pada kata yang sama seperti ” sir dengan zir “.

Disleksia adalah salah satu kelainan dalam perkembangan baca-tulis, umumnya terjadi pada usia anak menginjak 7-8 tahun. Tanda-tanda dari kelainan ini adalah kesulitan dalam belajar membaca lancar dan kesulitan untuk memahami meskipun dalam keadaan normal atau di atas rata-rata. Disleksia juga termasuk kesulitan dalam menerapkan disiplin Ilmu Fonologi, kemampuan bahasa atau pemahaman verbal.
Disleksia bukan hanya ketidakmampuan seseorang dalam menyusun atau membaca kalimat secara urutan terbalik tetapi juga berbagai macam urutan, misalnya dari atas ke bawah, kiri dan kanan, serta sulit dalam menangkap dan menerima perintah yang seharusnya dilanjutkan ke memori otak. Penderita disleksia sering dikatakan tidak konsentrasi dalam berbagai hal dan tidak bisa menjawab pertanyaan berupa uraian atau panjang lebar. Beberapa orang berpendapat bahwa Disleksia bukanlah kecacatan total, cacat lahir, atau kelemahan dalam berfikir (abnormal) melainkan seorang anak yang memiliki kecerdasan tinggi. Anak disleksia membutuhkan perhatian lebih pada usia dininya, dorongan semangat , serta mendapatkan cara belajar yang berbeda dari teman yang lainnya.

Ternyata, ada seorang ilmuwan besar dan ternama memiliki kelainan Disleksia, seperti Albert Einstein,penemu teoeri relativitas sekaligus ilmuwan jenius di bidang ilmu matematika dan sains. Mungkin anda tidak percaya bahwa Einstein ternyata selama ini memiliki kelainan ini sejak kecil. Einstein didiagnosa memiliki Disleksi pada saat dia selalu gagal dalam mengingat hal-hal sederhana, mengingat jumlah bulan dalam setahun, bahkan tidak bisa mengikat tali sepatunya dengan benar. Meskipun memiliki keainan tersebut, Einstei tidak pernah menyerah hingga akhirnya dia berhasil menemukan dan menyelesaikan formula matematika tersulit. Hal ini membuktikanbahwa dirinya bisa sukses dan melegenda hingga sampai sekarang.

Leonardo Da Vinci merupakan penderita Disleksia yang kidal. Dia menuliskan ide-ide penemuannya dengan tulisan tangan dan kalimat-kalimat yang dibuatnya disusun secara terbalik sehingga hanya dapat dibaca melalui cermin. Penulis disleksia kerap tak sadar bahwa cara mereka menulis tidak sama dengan kebanyakan orang. Meski memiliki disleksia, desain yang telah dibuat oleh Leonardo Da Vinci sangatlah mendetail, rinci (urut), sekaligus brilian.

Pasti Anda sudah tidak asing dengan seorang pencerita ulung dan penulis Agatha Christie, salah satunya yang berjudul detektif Hercule Poirot dan Miss Marple. Agatha Christie juga diketahui menderita disleksia. Meskipun demikian, tidak menghentikannya untuk menjadi seseorang yang kreatif. Agatha tidak pernah lelah belajar untuk menulis dan membuat novel-novel misterinya yang hebat dan selalu bisa menyergap pembacanya. Sampai saat ini, cerita-cerita misteri Agatha Christie telah terjual miliaran kopi dan telah menginspirasi banyak novelis serta pembuat film.
Selain ketiga nama tersebut, berbagai personal yang terkenal dan ternama memiliki disleksia, diantaranya adalah Stave job penemu mesin digital, John Lennon musisi dari personel band The Beatles, Mohammad ali sang petinju , Steven Spielberg seorang sutradara dan pembuat film fenomenal (Jurassic Park) di masanya, dan lain sebagainya.

About eka kurniawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates