Sunday , 22 October 2017
artikel terbaru :
Home » Knowledge » Tidak Berkahnya Ilmu Karena apa sih? Simak Ulasan Dibawah Ini!

Tidak Berkahnya Ilmu Karena apa sih? Simak Ulasan Dibawah Ini!

Tidak Berkahnya Ilmu Karena apa sih? Simak Ulasan Dibawah Ini!

Tidak Berkahnya Ilmu Karena apa sih? Simak Ulasan Dibawah Ini!

Tidak Berkahnya Ilmu Karena apa sih? Simak Ulasan Dibawah Ini!

Apa Tujuan Menuntut Ilmu yang Sebenarnya?

Perlu kita ingat kembali bahwa ilmu agama bukanlah tujuan paling utama dari belajar agama dan semata-mata hanya ilmu saja. Akan tetapi tujuan kita belajar agama dan menuntut ilmu adalah agar bisa mengamalkan ilmu tersebut. Apabila kita telah berilmu namun kita tidak dapat mengamalkan ilmu tersebut, inilah yang dinamakan dengan “ilmu yang tidak berkah.” Tujuan utama ilmu tidak tercapai yaitu diamalkan. Ilmu tersebut bahkan sia-sia karena tidak bisa menjaga orang yang mengetahui ilmu tersebut.
contoh Ilmu yang Tidak Berkah

Ilmu yang tidak berkah misalnya, ada orang yang tahu banyak hadits dan ayat mengenai “sabar ketika mendapat musibah” bahkan ia hapal ayat dan hadits tersebut. Akan tetapi, ketika ia mendapat musibah, ia malah tidak sabar dan mencela takdir Allah. Semua ayat dan hadits yang ia ingat ia lupakan ketika itu .

Contoh Ilmu yang Berkah
Ilmu yang berkah misalnya, ada orang yang mungkin tidak hapal hadits dan ayat tentang “sabar ketika dapat musibah.” Yang ia ingat hanya sepotong perkataan nasehat ustadz yaitu “Orang sabar akan disayang dan dibantu Allah, jadi harus ridha dengan takdir Allah.” Ketika dapat musibah, ia ingat perkataan ini dan iapun sabar serta tetap berbahagia dengan takdir Allah. Ilmu yang sedikit itu berkah dan bisa menjaganya.

Penyebab Tidak Berkahnya Ilmu

1. Niat menuntut ilmu yang tidak ikhlas
Menuntut ilmu harus ikhlas, bukan untuk sombong dan mendapatkan pujian manusia. Seseorang akan mendapatkan ganjaran sesuai niatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya amal itu sesuai dengan niatnya. Setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.“

Sebaiknya kita perbaiki niatkan dan selalu memeriksa diri baik di awal maupun di tengah-tengah amal kita karena hati dan niat manusia dapat dengan mudah berbolak-balik.
Sufyan Ats-Tsauri berkata,

“Tidaklah aku berusaha untuk mengobati sesuatu yang lebih berat yaitu meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak-balik.” [2]

2. Menuntut ilmu hanya sebagai wawasan
Artinya kita tidak pernah berniat menuntut ilmu untuk kita amalkan. Secepatnya kita perbaiki niat kita supaya menuntut ilmu guna mengamalkannya.
Abu Qilabah berkata kepada Ayyub As Sakhtiyani,

“Jika kamu mendapat ilmu, maka timbulkannya keinginan ibadah padanya. Jangan sampai keinginanmu hanya untuk menyampaikan kepada manusia.”

3. Kurang adab dalam menuntut ilmu
Jika cara meminta dan menuntut ilmu saja sudah salah cara dan adabnya, bagaimana bisa kita dapatkan keberkahan ilmu tersebut? Ibarat seseorang akan minta uang atau pinjam sesuatu pada orang lain, akan tetapi dengan cara yang kasar dan membentak serta adab yang jelek, apakah akan diberi?

Maaf, di bawah ini merupakan contoh praktik menuntut ilmu dengan sikap yang kurang baik:
-Datang terlambat dan tidak meminta izin terlebih dahulu, namun kalau gurunya terlambat langsung ditelpon atau SMS: “ustadz kajiannya jadi tidak?”

-Jika tidak datang, tidak meminta izin terlebih dahulu (untuk kajian yang khusus) dan kajian datang sesukanya

-Duduk ingin paling belakang dan sambil bersandar (tanpa udzur)

-Disaat kajian terlalu banyak memainkan HP dan gadget tanpa ada kebutuhan yang penting

-Terlalu banyak bercanda atau ribut dalam majelis Ilmu

-Terlalu Fokus ke Ilmu saja tanpa memperhatikan adab, niatnya hanya ingin memiliki kedudukan yang tinggi di masyarakat serta lupa memperhatikan dan mencontoh adab dan akhlak gurunya.

Contoh adab dalam menuntut ilmu adalah tenang  dan fokus ketika di majelis ilmu. Ahmad bin Sinan menerangkan tentang majelis Abdurrahman bin Mahdi, guru Imam Ahmad, beliau mengatakan,

“Tak ada seorang pun berbicara di majelis Abdurrahman bin Mahdi, tak ada seorang pun yang berdiri, tak ada seorang pun yang mengasah/meruncingkan pena, tak ada yang tersenyum.”

4. Sangat jarang atau tidak pernah menghadiri majelis ilmu
Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi kita. Tak bijaksana apabila secara total kita cuma mengandalkan belajar melalui sosial media yang ilmu tersebut datang kepada kita dengan sendirinya. Ulama dahulu menjelaskan,
“Ilmu (agama) itu didatangi bukan ilmu yang mendatangi”

5. Tak menuntut ilmu dengan bertahap dan tidak istiqamah

Seperti menuntut ilmu agama tidak rutin dan tidak berurutan sesuai petunjuk guru. Perhatikan nasihat Syaikh Muhammad Shalih bin Al-‘Utsaimin rahimahullahu berikut:

“Janganlah belajar buku sedikit-sedikit, atau setiap cabang ilmu sepotong-sepotong lalu meninggalkannya, sebab ini membahayakan bagi penuntut ilmu dan membuang waktunya tanpa faidah,

Misalnya:
Beberapa penuntut ilmu memperlajari ilmu nahwu, ia belajar kitab Al-Jurumiyah tidak lama lalu berpindah ke Matan Qathrun nadyi lalu berpindah ke Matan Al-Alfiyah. Demikian juga ketika mempelajari fikih, belajar Zadul mustaqni sebentar, kemudian Umdatul fiqh sebentar kemudian Al-Mughni kemudian Syarh Al-Muhazzab, dan seterusnya. Cara seperti Ini umumnya tidak mendapatkan ilmu, seandainya ia memperoleh ilmu, maka ia tidak memperoleh kaidah-kaidah dan dasar-dasar.”

Demikian semoga bermanfaat

About putri indah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates