Wednesday , 16 August 2017
artikel terbaru :
Home » Knowledge » Varietas dan Manfaat Kacang Tanah

Varietas dan Manfaat Kacang Tanah

Varietas dan Manfaat Kacang Tanah

Varietas dan Manfaat Kacang Tanah

Varietas dan Manfaat Kacang Tanah

1. SEJARAH SINGKAT
Kacang tanah merupakan tanaman pangan yang berupa semak berasal dari Amerika Selatan, tepatnya dari Brazilia. Penanaman kacang tanah pertama kali dilakukan oleh suku Indian (suku asli bangsa Amerika). Di Benua Amerika, penanaman tersebut berkembang dan dilakukan oleh pendatang dari Eropa. Di tingkat Internasional, awalnya kacang tanah berpusat di Amerika Serikat, Cina, India, Nigeria, dan Gombai, selanjutnya meluas ke negara lain. Di Indonesia kacang tanah terpusat di Pulau Jawa, Sumatra Utara, Sulawesi dan saat ini telah ditanam di seluruh Indonesia. Pada awal abad ke-17, kacang tanah pertama kali masuk ke Indonesia yang dibawa oleh pedagang Cina dan Portugis. Nama lain dari kacang tanah adalah kacang una, kacang banggala, kacang jebrol, kacang bandung, suuk, kacang tuban, kacang kole. Bahasa Inggrisnya kacang tanah adalah “peanut” atau “groundnut”.

2. JENIS TANAMAN
Sistematika kacang tanah adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Klas : Dicotyledoneae
Ordo : Leguminales
Famili : Papilionaceae
Genus : Arachis
Spesies : Arachis hypogeae L

Varietas-varietas unggul pada kacang tanah biasanya para petani membudidayakan yang bertipe tegak dan berumur pendek (genjah). Varietas unggul kacang tanah ditandai dengan beberapa ciri: berumur pendek (genjah) antara 85-90 hari, daya hasil tinggi dan stabil, tahan terhadap penyakit seperti karat dan bercak daun, toleran terhadap kondisi kering atau tanah becek.

Varietas kacang tanah di Indonesia yang terkenal, antara lain:
a) Kacang Brul, memiliki umur pendek yaitu 3-4 bulan.
b) Kacang Cina, memiliki umur panjang yaitu 6-8 bulan.
c) Kacang Holle, merupakan hasil persilangan campuran antara varietas-varietas yang ada dan tidak bisa disamakan dengan kacang “Waspada” karena berbeda varietas.

3. MANFAAT TANAMAN

Di bidang industri, kacang tanah digunakan sebagai bahan untuk membuat minyak goreng, mentega, keju, dan sabun. Hasil sampingan dari minyak dapat dibuat bungkil (ampas kacang yang sudah dipipit/diambil minyaknya) dan dibuat oncom dengan fermentasi jamur. Manfaat daunnya selain dibuat sayuran mentah atau direbus, dapat digunakan sebagai bahan pakan hewan ternak rumeninsia (kambing, sapi, domba,dll) serta diolah menjadi pupuk hijau. Dalam penggunaannya sebagai bahan pangan dan pakan ternak, kacang tanah memiliki nilai gizi yang tinggi yaitu mengandung lemak (40,50%), protein (27%), karbohidrat serta vitamin (A, B, C, D, E dan K), serta mengandung berbagai jenis mineral (Ca, Cl, Fe, Mg, P, K dan S).

4. HAMA DAN PENYAKIT

A. Hama
a) Uret, Gejala: memakan akar, batang bagian bawah dan polong kemudian tanaman layu dan mati. Pengendalian: dan uret dimusnahkan.
b) Ulat berwarna, Gejala: daun akan terlipat, menguning, dan mengering.
c) Ulat grapyak, Gejala: memakan epidermis daun dan tulang daun secara berkelompok.
d) Ulat jengkal, Gejala: menyerang dan memakan daun.
e) Sikada, Gejala: menghisap cairan daun.
f) Kumbang daun, Gejala: daun tampak berlubang, daun tinggal tulang, juga makan pucuk bunga.
Pengendalian pada hama tersebut dapat dilakukan dengan penyiangan intensif, tanaman terserang dicabut, menanam serempak, atau penyemprotan insektisida seperti: insektisida lannate, Agnotion 50 EC, Azodrin 15 W5C, Diazeno 60 EC, Sevin 85 S atau Sevin 5 D, Basudin 60 EC, Lebaycid 500 EC, Supraciden 40 EC.

B. Penyakit
a) Penyakit layu
Pengendalian: penyemprotan Streptonycin atau Agrimycin, 1 ha membutuhkan 0,5-1 liter (kelarutan 200-400 liter/ha).
c) Penyakit bercak daun
Pengendalian: penyemprotan dengan bubur Bardeaux 1 % atau Dithane M 45, atau Deconil pada saat tanaman selesai berbunga, dengan jarak waktu penyemprotan 1 minggu atau 10 hari sekali.
g) Penyakit karat
Pengendalian: mencabut dan membakar tanaman yang terserang serta semua vector penularan dibasmi.
d) Penyakit mozaik
Pengendalian: penyemprotan sejak tanaman itu baru tumbuh dengan fungisida secara rutin 5-10 hari sekali
e) Penyakit gapong
Pengendalian: tanahnya didangir kemudian dicari nematodanya, baru diberi DD (Dichloropane Dichloropen) 40-800 liter/ha per aplikasi.
b) Penyakit sapu setan
Pengendalian: tanaman dicabut, dibuang dan dimusnahkan, semua tanaman inang dibersihkan (sanitasi lingkungan).
f) Penyakit Sclertium
Pengendalian: membakar tanaman yang terserang cendawan.

About eka kurniawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates