Monday , 24 July 2017
artikel terbaru :
Home » Knowledge » Penyebab Rasa Pedas Pada Tanaman Cabai (Capsicum sp)

Penyebab Rasa Pedas Pada Tanaman Cabai (Capsicum sp)

Penyebab Rasa Pedas Pada Tanaman Cabai (Capsicum sp)

Penyebab Rasa Pedas Pada Tanaman Cabai (Capsicum sp)

Penyebab Rasa Pedas Pada Tanaman Cabai (Capsicum sp)

Penyebab Rasa Pedas Pada Tanaman Cabai (Capsicum sp) – Cabai (Capsicum sp.) merupakan salah satu jenis tanaman semusim yang berasal dari suku Solanaceae (sejenis terung-terungan) dan merupakan bahan makanan yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Tanaman Cabai sebenarnya berasal dari Peru, namun penyebaran tanaman ini bermula dari Benua Amerika, kemudian ke Benua Asia, Afrika, dan Eropa. Cabai sangat mudah tumbuh di dataran rendah atau di dataran tinggi. Kebutuhan mengkonsumsi cabai saat ini semakin meningkat setiap tahunnya. Spesies tanaman cabai yang paling sering digunakan oleh masyarkat adalah jenis Capsicum annum, Capsicum pubescens, Capsicum frutescens, Capsicum chinense dan Capsicum baccatum

Masyarakat luas pada umumnya menggunakan cabai sebagai bumbu atau bahan masakan yang dapat memberikan rasa pedas pada makanan bahkan cabai dapat membangkitkan selera makan. Selain itu, sejak dulu cabai juga dijadikan sebagai bahan baku obat-obatan herbal di seluruh dunia. Zat yang menyebabkan rasa pedas pada cabai adalah Capsaisin. Capsaisin memiliki rumus molekul C18H27NO3 (8-methyl-N-vanillyl-6-nonenamide) yang tersusun dari unit vanillamin dengan asam dekanoat, yang mempunyai ikatan rangkap pada rantai lurus bagian asam. Pada umumnya, cabai segar mengandung 0.1-1.0% capsaisin dan biasanya terdapat pada biji, kulit, dan daging buah cabai. Capsaisin dapat dikembangkan sebagai biological pesticida dalam melawan hama serangga dan tikus. Selain itu, zat tersebut juga dapat diproses menjadi karpet dan furniture (di dalam ruangan) atau bisa sebagai lahan buah dan sayur bahkan dapat dimanfaatkan dalam pembuatan gas air mata.

Pada saat cabai dimakan dan dikunyah dalam mulut, senyawa-senyawa capsaicinoids akan berikatan dengan reseptor nyeri di mulut dan kerongkongan maka akibatnya muncul rasa pedas. Selanjutnya, reseptor tersebut akan mengirimkan sinyal/respon ke otak bahwa sesuatu yang pedas telah dimakan. Kemudian, otak merespon sinyal tersebut dengan menaikkan denyut jantung, meningkatkan pengeluaran keringat, dan melepaskan hormon endorfin. Proses penguraian cabai di dalam tubuh kita merupakan salah satu prinsip Fisika yaitu Termodinamika dan kalor

Capsaisin pada cabai yang telah diekstraksi akan diperoleh dalam bentuk oleoresin yaitu suatu ekstrak yang mempunyai kandungan utama dari bahan yang diekstrak yang berbentuk gel (pasta). Selain digunakan sebagai bahan pangan (flavour), oleoresin capsaicin juga bisa digunakan dalam bidang farmasi yaitu sebagai bahan untuk membuat obat.Kandungan capsaicin pada jenis Capsicum frutescens dalam kadar tertentu akan bersifat toksik dan menimbulkan ancaman kesehatan seperti gangguan fungsi sel, reaksi inflamasi, bahkan sampai kematian sel. Beberapa senyawa lain yang terkandung dalam buah cabai rawit selain capsaicin adalah alkaloid, sterol (terpenoid), dan flavonoid. Pada biji cabai rawit terkandung beberapa senyawa golongan alkaloid seperti solanine, solamargine, solasomine, solamidine, solasodine, serta mengandung capsacidin(golongan steroid saponin). Senyawa tersebut diduga dapat menjadi toksik jika dalam kadar tertentu.Derajat kepedasan cabai dinyatakan dalam ppm atau ppb. Ukuran standar untuk mengukur tingkat kepedasan cabai pada bidang industry yaitu Scouville Unit. Capsaisin murni memiliki Scouville Unit sebesar 16 juta.

About eka kurniawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates