Wednesday , 28 June 2017
artikel terbaru :
Home » Info Kesehatan » Cara Penularan dan Faktor Penyebab Tonsilitis

Cara Penularan dan Faktor Penyebab Tonsilitis

Cara Penularan dan Faktor Penyebab Tonsilitis

Cara Penularan dan Faktor Penyebab Tonsilitis

Cara Penularan dan Faktor Penyebab Tonsilitis

Cara Penularan dan Faktor Penyebab Tonsilitis – Faktor penyebab tonsilitis atau radang amandel pada umumnya merupakan virus dan selebihnya diakibatkan oleh bakteri. Mereka yang mengalami tonsilitis akan menimbulkan gejala sakit kepala, suhu tubuh meningkat atau demam, nyeri pada tenggorokan pada saat menelan, sakit pada telinga, dan mengalami batuk. Gejala biasanya dapat pulih selama tiga sampai empat hari.Meskipun sebagian besar kondisi tonsillitis ini merupakan penyakit yang tidak tergolong serius, akan tetapi tetap dianjurkan untuk segera konsultasi dengan dokter, apabila mengalami tanda atau gejala yang dialami lebih dari empat hari serta tidak menimbulkan tanda – tanda pemulihan atau gejala yang terjadi semakin parah yang akan menyebabkan penderitanya sama sekali tidak dapat makan atau bahkan akan kesulitan untuk bernafas.

Meskipun bisa diakibatkan oleh bakteri, sebagian besar dari kondisi tonsilitis atau radang amandel diakibatkan oleh virus. Penularan virus atau bakteri tersebut dapat terjadi melalui sebagai berikut:

1. Kontak langsung, seperti pada saat tanpa sengaja menghirup percikan air liur sebagai akibat bersin ataupun batuk di udara yang berasal dari penderita penyakit tonsilitis.

2. Kontak tidak langsung, seperti pada saat tanpa sengaja menyentuh permukaan benda yang sudah terkontaminasi oleh virus dan atau bakteri, kemudian menyentuh mulut ataupun hidung.

Faktor penyebab bakteri kondisi radang amandel atau tonsilitis dapat berasal dari bakteri kelompok streptococcus. Sedangkan virus sebagai faktor penyebab radang amandel atau tonsilitis diantaranya sebagai berikut:
1. Virus Rubeola, virus faktor penyebab campak
2. Virus Enterovirus, virus faktor penyebab penyakit mulut, kaki, dan juga tangan.
3. Virus Influenza, virus faktor penyebab flu.
4. Virus Rhinovirus, virus faktor penyebab pilek.
5. Virus Adenovirus, virus faktor penyebab diare.
6. Virus Epstein-Barr, virus faktor penyebab demam kelenjar.

Anak – anak dengan usia prasekolah sampai yang berumur pertengahan remaja akan memiliki resiko tinggi mengalami tonsilitis. Dimana pada kisaran umur tersebut, interaksi bersama kawan – kawan sebaya akan sangat tinggi dengan demikian peluang virus ataupun bakteri untuk menular bisa sangat tinggi. Tonsilitis yang diakibatkan oleh bakteri akan paling sering dialami pada anak yang berusia 5 sampai 15 tahun, sementara yang diakibatkan oleh virus jarang dialami pada anak yang lebih muda umurnya. Meskipun demikian, penyakit tonsilitis ini jarang timbul pada seorang anak yang berumur di bawah dua tahun.

Dalam mendiagnosa tonsilitis atau radang amandel, tenaga medis dapat bertanya perihal gejala atau tanda yang dialami penderitanya. Apabila radang amandel diakibatkan oleh infeksi suatu bakteri, biasanya gejala bisa berupa adanya pembengkakan pada kelenjar getah bening yang terjadi di bagian tenggorokan, timbulnya bintik – bintik nanah di daerah tonsil, dan mengalami demam. Sedangkan apabila tonsilitis diakibatkan oleh infeksi virus, biasanya tanda dan gejala bisa lebih ringan dari infeksi bakteri, yang sering disertai dengan batuk dan juga pilek.

Agar dapat menguatkan dugaan bahwa pasien mengalami tonsilitis, biasanya dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik diantaranya:
1. Melakukan pemeriksaan tenggorokan, hidung, serta telinga.
2. Merasakan apabila terdapat pembengkakan pada kelenjar getah bening di leher.
3. Kadang – kadang, dilakukan pemeriksaan fisik agar dapat memeriksa kondisi pembengkakan organ limpa dalam mendeteksi penyakit mononukleosis serta untuk memeriksa adanya ruam, untuk mendeteksi ruam kemerahan sebagai akibat infeksi streptococcus.

Apabila diagnosis dengan lebih rinci dibutuhkan, seperti agar dapat menentukan apakah kondisi tonsilitis yang dialami penderitanya diakibatkan karena virus atau akibat oleh bakteri, dengan demikian dapat dilakukan dengan mendeteksi sampel apusan tenggorokan serta darah yang dilakukan di laboratorium.

About yanti nurjayanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates