Saturday , 21 October 2017
artikel terbaru :
Home » Info Kesehatan » Seputar Gejala, Diagnosa dan Pengobatan Akalasia

Seputar Gejala, Diagnosa dan Pengobatan Akalasia

Seputar Gejala, Diagnosa dan Pengobatan Akalasia

Seputar Gejala, Diagnosa dan Pengobatan Akalasia

Seputar Gejala, Diagnosa dan Pengobatan Akalasia

Seputar Gejala, Diagnosa dan Pengobatan Akalasia – Akalasia merupakan suatu kondisi dimana kerongkongan atau esophagus mengalami kehilangan kemampuan dalam mendorong makanan yang berasal dari mulut ke bagian perut. Penyakit akalasia ini tergolong penyakit langka, bisa diwariskan atau keturunan, serta dapat menyerang orang dengan berbagai usia. Akan tetapi, pada kebanyakan penderita dengan kondisi akalasia dengan usia paruh baya atau yang mengalami gangguan terhadap autoimun.

Dalam kondisi normalnya, lower esophageal sphincter atau LES dapat mengendur supaya makanan dapat masuk ke dalam perut. Akan tetapi, pada penderita dengan kondisi akalasia, LES tidak dapat mengendur secara benar. Dengan demikian makanan akan menumpuk di bagian bawah dari kerongkongan atau yang lebih sering makanan akan naik kembali. LES sendiri merupakan suatu lingkaran otot di bagian bawah yang berasal dari kerongkongan dnegan terbuka otomatis pada saat makanan ataupun minuman turun ke dalam perut, serta tertutup secara sendirinya agar dapat mencegah asam serta makanan yang terdapat di dalam perut tidak akan naik kembali ke bagian kerongkongan.

Kerusakan serta hilangnya bagian saraf – saraf di dinding kerongkongan akan menjadi faktor penyebab utama mengalami akalasia. Akan tetapi, faktor penyebab kondisi rusak ataupun hilangnya saraf – saraf ini belum dapat diketahui. Adanya gangguan autoimun, misalnya sindrom Sjogren, lupus, ataupun uveitis, dapat dikaitkan dengan terjadinya akalasia.

Terdapat beberapa komplikasi yang dapat dialami pada penderita akalasia diantaranya:
1. Regurgitasi, dimana naiknya asam lambung ataupun naiknya makanan yang kembali ke kerongkongan.
2. Pneumonia, akibat masuknya makanan ke bagian dalam paru – paru.
3. Perforasi esophagus, dimana terjadi robeknya dinding kerongkongan.
4. Kanker esophagus, merupakan tersumbatnya bagian kerongkongan oleh makanan dengan jumlah banyak yang tidak dapat masuk ke dalam perut, sehingga akan berisiko mengalami kanker esofasgus akan meningkat.

Gejala – gejala utama yang pada umumnya akan dirasakan pada penderita akalasia sebagai berikut:
1. Disfagia, merupakan suatu kondisi dimana penderita yang mengalami akalasia akan kesulitan, bahkan akan mengalami kesakitan, pada saar menelan makanan ataupun minuman.
2. Sakit dada, dimana biasanya akan bertambah parah sesudah makan.
3. Nyeri di baian ulu hati.
4. Muntah yang menetes pada mulut.
5. Berat bedan akan turun tanpa penyebab yang jelas.

Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh tenaga medis atau dokter gar dapat mendiagnosis akalasia sebagai berikut:
1. Pencitraan Sinar-X serta Barium.
Penderita dapat diminta agar dapat menelan cairan dengan kandungan zat kimia barium, dengan demikian kerongkongan dapat terlihat pada saat diambil gambar dengan sinar – X. Dimana normalnya diameter dari kerongkongan akan terlihat cukup lebar serta barium akan terlihat lancar yang memasuki lambung. Akan tetapi tidak demikian terhadap penderita akalasia.

2. Endoskopi
Instrumen fleksibel yang disertai kamera pada ujungnya dapat dimasukkan pada kerongkongan ke bagian bawah supaya dokter dapat memeriksa dinding kerongkongan serta perut.

3. Manometri
Tabung plastik yang berukuran kecil dapat dimasukkan ke dalam kerongkongan dengan lewat mulut ataupun hidung, serta dapat merekam aktivitas dan juga kekuatan kontraksi otot serta akan memeriksa fungsi dari kerongkongan. Pada kondisi akalasia dapat tampak hilangnya kontraksi serta adanya tekanan yang lebih tinggi pada akhir kerongkongan.

Tujuan dari upaya pengobatan agar penderita dengan kondisi akalasia dapat membuka otot LES, dengan demikian makanan dan juga minuman dapat masuk ke dalam perut. Beberapa jenis penanganan yang dapat dilakukan pada penderita akalasia diantaranya:
1. Pelebaran teradap kerongkongan,
2. Obat – obatan, seperti obat nitrate atau nifedipine.
3. Dilakukan pembedahan.
4. Injeksi Botox atau Botulinum toxin.

About yanti nurjayanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates